Apa Saja Pohon Penyerap Polutan Terbaik? Daftar Lengkap dan Daya Serap CO₂-nya

Pohon Penyerap Polutan

Pohon Penyerap Polutan

Pohon penyerap polutan yang paling efektif untuk udara kota meliputi trembesi, cassia, kenanga, pingku, dan beringin (Dahlan, 2008). Sementara itu, kualitas udara di Jambi dan sekitarnya memburuk dalam beberapa bulan terakhir tahun 2026 akibat kebakaran lahan dan hutan, sehingga kabut asap tebal menyelimuti kota. Pada dasarnya, pohon bekerja sebagai penyaring alami yang menyerap gas pencemar dan menjerap partikel debu, termasuk PM2.5 dan PM10. Oleh karena itu, kamu bisa memulai langkah kecil dengan mengenali jenis pohon yang tepat, lalu menanamnya di halaman, taman lingkungan, atau ruang terbuka hijau terdekat.

Cara Pohon Menyerap Polutan Udara

Semua tumbuhan mampu menyerap polutan. Namun, pohon unggul karena fisiknya tinggi besar serta berdaun lebar dan lebat. Dengan demikian, tajuk yang luas menyediakan permukaan daun lebih banyak untuk menangkap zat pencemar. Sebagai contoh, sebuah studi pemodelan di Amerika Serikat memperkirakan pohon kota membersihkan sekitar 711.000 metrik ton polutan per tahun, mencakup ozon, PM10, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan karbon monoksida (Nowak et al., 2006). Secara umum, tanaman menjalankan dua fungsi utama.

1. Menyerap Polutan Berbentuk Gas

Pertama, dedaunan menyerap gas pencemar dari udara. Akan tetapi, konsentrasi gas yang terlalu tinggi justru meracuni tanaman sampai mati. Oleh sebab itu, kamu sebaiknya menanam pohon jauh sebelum polusi udara mencapai level berbahaya.

2. Menjerap Polutan Berbentuk Debu

Kedua, permukaan daun menjerap partikel debu yang terbawa angin, termasuk PM2.5 dan PM10. Meskipun demikian, penjerapan bersifat sementara. Setelah itu, hujan meluruhkan debu dari daun, sehingga daun siap menjerap partikel baru. Lebih lanjut, kerapatan dan desain vegetasi menentukan ukuran partikel yang tertangkap (Janhäll, 2015).

Tabel Pohon Penyerap Polutan dan Daya Serap CO₂

Selanjutnya, tabel berikut merangkum daya serap CO₂ sepuluh pohon berdasarkan temuan Dahlan (2008) sebagaimana dirangkum.

PeringkatNama PohonNama IlmiahSerapan CO₂ per Pohon per Tahun
1TrembesiSamanea saman28.488,39 kg
2CassiaCassia sp5.295,47 kg
3KenangaCanangium odoratum756,59 kg
4PingkuDysoxylum excelsum720,49 kg
5BeringinFicus benjamina535,90 kg
6Kerai payungFellicium decipiens404,83 kg
7MatoaPometia pinnata329,76 kg
8MahoniSwietenia mahagoni295,73 kg
9SagaAdenanthera pavoniana221,18 kg
10BungurLagerstroemia speciosa160,14 kg

Sumber: Dahlan (2008)

Sebagai tambahan, Dahlan (2008) meneliti pohon hutan kota di Kebun Raya Bogor dan Stasiun Penelitian Hutan Dramaga. Setelah itu, ia mengelompokkan daya serap pohon ke dalam lima kelas, dari sangat tinggi sampai sangat rendah.

Trembesi: Penyerap Karbon Dioksida Tertinggi

Dahlan mengategorikan trembesi sebagai pohon penyerap ekstra tinggi, yaitu di atas 1.000 kg per tahun. Dengan kata lain, pohon yang juga bernama ki hujan atau rain tree menyerap sekitar 28,5 ton CO₂ setiap tahun. Angka tersebut jauh melampaui cassia yang menyerap sekitar 5,3 ton (Dahlan, 2010, dalam Ali et al., 2020).

1. Ciri Fisik Trembesi

Trembesi berkembang cepat dan mencapai tinggi 20 sampai 25 meter. Selain itu, cabangnya merentang lebih dari 15 meter dan membentuk tajuk lebar yang meneduhi area di bawahnya. Adapun julukan pohon hujan muncul karena tajuknya sering meneteskan air, hasil akar yang menyerap banyak air tanah.

2. Daya Adaptasi Trembesi

Trembesi tumbuh di daerah sangat kering seperti sabana. Di sisi lain, pohon tersebut juga hidup di kawasan berair seperti tepi sungai, bahkan di tanah yang sangat asam. Lebih dari itu, trembesi bertahan di wilayah tropis maupun subtropis. Dahlan menyebut kemampuan adaptasi tersebut dengan istilah “hampir everywhere”.

Catatan Lapangan dari Pakar Hutan Kota

Dahlan, mengajar Ilmu Hutan Kota dan Jasa Lingkungan di IPB, menekankan satu prinsip sederhana: semakin banyak trembesi, semakin besar serapan CO₂ dari udara. Dengan demikian, konsentrasi CO₂ yang turun ikut menyusutkan efek pemanasan global. Untuk membuktikannya, kamu bisa menguji sisi kesejukannya sendiri. Caranya, bandingkan suhu di bawah tajuk lebar dengan area terbuka tanpa pohon pada siang hari, lalu catat perbedaannya.

Pohon Bukan Solusi Tunggal: Pertimbangan Penempatan

Namun, penempatan pohon memengaruhi hasilnya. Sebagai contoh, Janhäll (2015) menemukan bahwa pohon besar di jalan sempit berlalu lintas padat mengurangi percampuran udara dan bisa menaikkan polusi lokal. Sebaliknya, vegetasi rendah dekat sumber emisi justru meningkatkan penjerapan. Selain itu, pemerintah Inggris (Department for Environment, Food & Rural Affairs) menilai kontribusi vegetasi terhadap kualitas udara kota lebih banyak lewat pengaruhnya pada penyebaran polutan daripada lewat penyerapan langsung. Oleh karena itu, kamu sebaiknya memandang pohon sebagai pelengkap upaya menekan emisi dari kendaraan dan industri.

Tips Memilih dan Menanam Pohon Penyerap Polutan

  1. Pertama, pilih pohon bertajuk lebar dan berdaun lebat, karena luas permukaan daun menentukan daya tangkap polutan (Nowak et al., 2006).
  2. Kedua, sesuaikan jenis pohon dengan lahan. Trembesi butuh ruang luas untuk cabangnya, sedangkan kenanga, matoa, dan saga lebih cocok untuk lahan terbatas.
  3. Ketiga, tanam sejak dini, sebelum konsentrasi gas pencemar melonjak dan meracuni tanaman.
  4. Keempat, pertimbangkan tinggi dan kerapatan tanaman di tepi jalan sempit (Janhäll, 2015).
  5. Kelima, kombinasikan beberapa jenis pohon supaya ruang hijau lebih tahan terhadap hama dan cuaca ekstrem.
  6. Terakhir, rawat pohon muda dengan penyiraman rutin sampai akarnya kuat.

Singkatnya, trembesi memimpin daftar pohon penyerap polutan dengan selisih sangat jauh, disusul cassia, kenanga, pingku, dan beringin. Selain itu, pohon menyerap gas pencemar dan menjerap debu, sehingga udara kota terasa lebih bersih dan lebih sejuk. Karena itu, mulailah dari satu pohon di lingkunganmu. Terakhir, bagikan artikel tersebut ke teman, keluarga, dan grup RT/RW kamu.

Baca juga:

FAQ

1. Apa saja pohon penyerap polutan terbaik?

Secara umum, trembesi, cassia, kenanga, pingku, dan beringin menempati lima besar penyerap karbon dioksida (Dahlan, 2008; Kompas.com, 2023). Di antara kelimanya, trembesi menyerap sekitar 28.488 kg CO₂ per tahun.

2. Pohon apa yang paling banyak menyerap polutan?

Jawabannya trembesi (Samanea saman). Dahlan menggolongkannya sebagai penyerap ekstra tinggi, yakni di atas 1.000 kg per tahun (Dahlan, 2010, dalam Ali et al., 2020).

3. Bagaimana cara pohon mengurangi polusi udara?

Pertama, daun menyerap polutan gas. Kedua, daun menjerap debu atau partikel PM2.5 dan PM10, lalu hujan meluruhkannya. Sebagai bukti, pohon kota di Amerika Serikat menyingkirkan ozon, PM10, NO₂, SO₂, dan CO dalam jumlah besar (Nowak et al., 2006).

4. Kapan waktu terbaik menanam pohon penyerap polutan?

Waktu terbaik datang sebelum konsentrasi gas pencemar terlalu tinggi. Sebab, gas berkonsentrasi tinggi meracuni tanaman sampai mati.

5. Apakah semua tanaman bisa menyerap polutan?

Ya, semua tumbuhan punya kemampuan tersebut. Namun, pohon besar berdaun lebar dan lebat menyerap jauh lebih banyak daripada tanaman kecil. Selain itu, efektivitasnya bergantung pada jenis, kerapatan, dan penempatan vegetasi (Janhäll, 2015).

Referensi

  1. Ali, A. V., Syarifuddin, A., & Triwanto, J. (2020). Pengaruh skarifikasi dan komposisi media terhadap perkecambahan dan pertumbuhan semai trembesi (Samanea saman Jacq). Journal of Forest Science Avicennia, 3(2). https://doi.org/10.22219/avicennia.v3i2.9349
  2. Dahlan, E. N. (2008). Jumlah emisi gas CO2 dan pemilihan jenis tanaman berdaya rosot sangat tinggi: Studi kasus di Kota Bogor. Media Konservasi, 13(2). https://journal.ipb.ac.id/konservasi/article/view/3052
  3. Department for Environment, Food & Rural Affairs. (n.d.). FAQ 105 – Vegetation and urban air pollution. Local Air Quality Management. https://laqm.defra.gov.uk/faqs/faq105
  4. Janhäll, S. (2015). Review on urban vegetation and particle air pollution – Deposition and dispersion. Atmospheric Environment, 105, 130–137. https://doi.org/10.1016/j.atmosenv.2015.01.052
  5. Nowak, D. J., Crane, D. E., & Stevens, J. C. (2006). Air pollution removal by urban trees and shrubs in the United States. Urban Forestry & Urban Greening, 4(3–4), 115–123. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2006.01.007
Scroll to Top