Tanaman Penyerap Karbondioksida
Tanaman penyerap karbondioksida terbanyak yang cocok untuk dalam ruangan meliputi paku sarang burung, maranta, sri rejeki, dan lidah mertua. Selain mempercantik rumah, tanaman hias tersebut menyerap CO2 lewat fotosintesis dan menambah oksigen. Oleh karena itu, kamu bisa memilih salah satunya sesuai cahaya, ruang, dan keberadaan hewan peliharaan di rumahmu.
Perbandingan Tanaman Penyerap Karbondioksida
| Tanaman | Nama ilmiah | Data penyerapan CO2 | Sumber |
|---|---|---|---|
| Paku sarang burung | Asplenium nidus | 2.000 ppm turun ke 800 ppm (green wall 189 pot); HCHO turun dari 2 ke 0,1 ppm | Su & Lin (2015) |
| Maranta | Maranta leuconeura | 71,67 ppm dari 1.000 ppm pada 300 lux | Suhaimi et al. (2017) |
| Sri rejeki | Dieffenbachia | Turun 23,9 persen di ruang uji tertutup | Suhaimi et al. (2016) |
| Lidah mertua | Sansevieria trifasciata | Turun 10,47–19,29 persen di ruang kantor | Pamonpol et al. (2020) |
| Anthurium | Anthurium andraeanum | 23,67 ppm (2,2 persen) pada 300 lux; naik saat cahaya lebih terang | Suhaimi et al. (2017) |
| Sukulen, kaktus, giok | Berbagai spesies | Menyerap CO2 pada malam hari lewat jalur CAM | Pengetahuan umum fisiologi tanaman |
| Peace lily, palem kuning, tanaman karet | Spathiphyllum, Dypsis lutescens, Ficus elastica | Uji NASA mengukur polutan VOC seperti benzena dan formaldehida, bukan CO2 | Wolverton et al. (1989) |
Namun, metode uji, ukuran ruang, dan intensitas cahaya berbeda di setiap penelitian. Dengan demikian, angka dalam tabel menunjukkan tren, bukan peringkat mutlak.
Cara Tanaman Menyerap Karbondioksida
Tanaman menyerap CO2 melalui stomata, yaitu pori kecil pada daun. Pada tanaman biasa, stomata membuka saat siang, lalu fotosintesis mengubah CO2 menjadi oksigen. Sebaliknya, tanaman CAM seperti lidah mertua, sukulen, kaktus, dan giok membuka stomata pada malam hari untuk mengurangi penguapan air. Karena itu, tanaman jenis CAM cocok kamu taruh di kamar tidur.
Selain jenis tanaman, cahaya ikut menentukan hasilnya. Misalnya, semua tanaman dalam studi Suhaimi et al. (2017) menyerap lebih banyak CO2 ketika intensitas cahaya naik dari 300 ke 700 lux.
Penjelasan Tiap Tanaman
1. Paku Sarang Burung
Peneliti Taiwan membangun green wall berisi 189 pot paku sarang burung. Hasilnya, instalasi tersebut menurunkan CO2 dari 2.000 ppm ke 800 ppm, dengan rata-rata 1,984 ppm per jam per pot (Su & Lin, 2015). Selain itu, tanaman tersebut menurunkan formaldehida (HCHO) dari 2 ppm ke 0,1 ppm. Agar hasilnya maksimal, taruh paku sarang burung di tempat teduh dan lembap, lalu jaga media tanam agar tidak kering.
2. Maranta
Maranta mencatat penyerapan 71,67 ppm CO2 pada cahaya 300 lux, dan hasilnya membaik ketika cahaya naik (Suhaimi et al., 2017). Oleh sebab itu, letakkan tanaman bercorak cantik tersebut di dekat jendela yang terang. Meskipun menyukai cahaya, maranta tetap perlu terhindar dari sinar matahari langsung.
3. Sri Rejeki dan Anthurium
Sri rejeki mencatat penurunan CO2 hingga 23,9 persen dalam ruang uji tertutup (Suhaimi et al., 2016). Di sisi lain, anthurium tampil lebih sederhana di cahaya redup, dengan penurunan 2,2 persen pada 300 lux. Namun, kemampuannya naik saat cahaya bertambah (Suhaimi et al., 2017). Keduanya tampil menarik di ruang tamu. Akan tetapi, jauhkan keduanya dari anak kecil dan hewan peliharaan karena getah dan daunnya bisa mengiritasi.
4. Lidah Mertua
Lidah mertua termasuk tanaman penyaring udara paling populer di Indonesia. Di kantor Thailand yang berventilasi terbatas, misalnya, penempatan lidah mertua bersama ventilasi sederhana menurunkan konsentrasi CO2 sebesar 10,47–19,29 persen (Pamonpol et al., 2020). Selain itu, perawatannya mudah. Kamu cukup menyiram saat media tanam benar-benar kering.
5. Peace Lily, Palem Kuning, dan Lili Paris
Studi NASA menguji tanaman hias terhadap benzena, trikloroetilena, dan formaldehida di ruang tertutup (Wolverton et al., 1989). Karena penelitian tersebut, peace lily, palem kuning, dan tanaman sejenis populer sebagai penyaring udara. Namun, studi itu mengukur polutan VOC, bukan CO2. Selain itu, peace lily beracun bagi kucing dan anjing, jadi tempatkan di area yang tidak terjangkau mereka.
Tips Praktis Menata Tanaman Penyerap CO2 di Rumah
Penataan yang tepat lebih berpengaruh daripada jumlah tanaman. Untuk memulai, coba langkah berikut:
- Pertama, kelompokkan 2–3 tanaman berukuran sedang di tiap ruangan utama.
- Kedua, pilih tanaman CAM untuk kamar tidur, misalnya lidah mertua atau giok.
- Ketiga, letakkan paku sarang burung dan maranta di area teduh dengan cahaya terang tidak langsung.
- Selanjutnya, lap daun secara rutin agar stomata tidak tertutup debu.
- Di samping itu, buka jendela setiap hari supaya sirkulasi udara berjalan.
- Terakhir, cek keamanan tanaman bagi hewan peliharaan sebelum membeli.
Setelah itu, catat perubahan di rumahmu, misalnya pertumbuhan daun, kelembapan ruangan, dan rasa segar saat bangun tidur. Dengan begitu, panduan tersebut menjadi pengalaman nyata milikmu sendiri.
Batas Kemampuan Tanaman Hias
Penelitian laboratorium memakai ruang tertutup kecil. Sementara itu, di bangunan sungguhan, tanaman pot hanya menghilangkan polutan VOC dengan laju jauh di bawah pertukaran udara alami. Cummings dan Waring (2019) bahkan menghitung bahwa kamu membutuhkan 10–1.000 tanaman per meter persegi lantai untuk menyamai pertukaran udara biasa. Oleh karena itu, anggap tanaman sebagai pelengkap ventilasi, bukan pengganti. Tetaplah buka jendela dan jaga sirkulasi udara.
Kamu sudah punya daftar tanaman penyerap karbondioksida yang siap ditanam. Sekarang, bagikan artikel tersebut ke keluarga atau teman yang sedang menata rumah.
Baca juga:
- Apa Saja Pohon Penyerap Polutan Terbaik? Daftar Lengkap dan Daya Serap CO₂-nya
- Apa Saja Tanaman Penyerap Polusi? 11 Pilihan untuk Udara Rumah Lebih Segar
- 9 Pilihan dan Fakta Ilmiah Tanaman Penyerap Asap Rokok
- Alat Ukur Curah Hujan: Ombrometer, Tipping Bucket, ARR (IoT), Radar Hujan, dan ATHUS
- Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem: Faktor Pemicu, Ciri Khasnya, dan Cara Melestarikannya
- Penyebab Pemanasan Global 2026: Krisis Iklim yang Kian Mengancam
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa tanaman penyerap karbondioksida terbanyak di dalam rumah?
Paku sarang burung mencatat penurunan CO2 paling besar dalam data yang tersedia, yaitu dari 2.000 ppm ke 800 ppm pada green wall (Su & Lin, 2015). Selain itu, maranta, sri rejeki, dan lidah mertua juga tergolong efektif (Pamonpol et al., 2020; Suhaimi et al., 2016, 2017).
2. Tanaman apa yang menyerap CO2 pada malam hari?
Lidah mertua, sukulen, kaktus, dan giok menyerap CO2 pada malam hari karena membuka stomata saat suhu lebih sejuk. Oleh karena itu, tanaman jenis tersebut cocok untuk kamar tidur.
3. Berapa jumlah tanaman yang perlu kamu taruh dalam satu ruangan?
Tidak ada angka pasti. Namun, dua sampai tiga tanaman berukuran sedang per ruangan sudah cukup untuk menambah kesegaran dan keindahan. Di samping itu, tambahkan ventilasi alami agar kualitas udara benar-benar terjaga (Cummings & Waring, 2019).
4. Apakah tanaman penyerap CO2 aman untuk hewan peliharaan?
Tidak semua aman. Misalnya, peace lily, sri rejeki, dan lidah mertua dapat menyebabkan iritasi bila tergigit hewan. Sebaliknya, lili paris umumnya dinilai lebih aman. Meski begitu, tetap cek daftar tanaman beracun dari dokter hewan.
5. Apakah tanaman bisa menggantikan air purifier?
Tidak. Memang, tanaman membantu menyerap CO2 dan sebagian polutan. Akan tetapi, kapasitasnya jauh lebih kecil daripada pertukaran udara atau alat pembersih udara (Cummings & Waring, 2019). Karena itu, gunakan tanaman sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Setiap daun hijau yang kamu rawat hari ini ikut menyumbang udara yang lebih segar untuk esok hari.
Referensi
- Cummings, B. E., & Waring, M. S. (2019). Potted plants do not improve indoor air quality: A review and analysis of reported VOC removal efficiencies. Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology, 30, 253–261. https://www.nature.com/articles/s41370-019-0175-9
- Pamonpol, K., Areerob, T., & Prueksakorn, K. (2020). Indoor air quality improvement by simple ventilated practice and Sansevieria trifasciata. Atmosphere, 11(3), 271. https://doi.org/10.3390/atmos11030271
- Su, Y.-M., & Lin, C.-H. (2015). Removal of indoor carbon dioxide and formaldehyde using green walls by bird nest fern. The Horticulture Journal, 84(1). https://www.jstage.jst.go.jp/article/hortj/84/1/84_CH-114/_html/-char/en
- Suhaimi, M. M., Leman, A. M., Afandi, A., Hariri, A., Idris, A. F., Dzulkifli, S. N. M., & Gani, P. (2017). Effectiveness of indoor plant to reduce CO2 in indoor environment. MATEC Web of Conferences, 103, 05004. https://doi.org/10.1051/matecconf/201710305004
- Suhaimi, M. M., Leman, A. M., & Safii, H. (2016). Indoor plants as agents deterioration of gas pollutions. ARPN Journal of Engineering and Applied Sciences, 11, 10944–10949.
- Wolverton, B. C., Douglas, W. L., & Bounds, K. (1989). A study of interior landscape plants for indoor air pollution abatement (NASA Technical Memorandum TM-108061). NASA John C. Stennis Space Center. https://ntrs.nasa.gov/search.jsp?R=19930072988
Aqilla Putri Pasla, seorang pengamat lingkungan yang berfokus pada ekologi, konservasi, dan gaya hidup berkelanjutan melalui Konten yang berbasis fakta, tips praktis, serta wawasan edukatif.



