Kekurangan Tanaman Lidah Mertua: 10 Risiko dan Solusinya

Kekurangan Tanaman Lidah Mertua

Kekurangan Tanaman Lidah Mertua

Kekurangan tanaman lidah mertua (sansevieria atau Dracaena trifasciata) mencakup pertumbuhan yang lambat, kandungan saponin yang beracun bagi kucing dan anjing, daun yang tidak pulih setelah rusak, serta risiko busuk akar akibat penyiraman berlebih. Memang, banyak penjual menyebut tanaman hias indoor tersebut sebagai tanaman anti-mati. Namun, ketahanan tidak sama dengan kecocokan. Oleh karena itu, kamu perlu menimbang kelemahannya, terutama jika di rumah tinggal balita, kucing, atau anjing yang suka mengunyah daun.

Ringkasan Kekurangan Tanaman Lidah Mertua

Sebelum membahas satu per satu, kamu bisa melihat gambaran umumnya lewat tabel berikut. Selanjutnya, setiap poin dijelaskan lebih dalam pada bagian di bawahnya.

KekuranganTingkat RisikoBisa Diatasi?Solusi Singkat
Pertumbuhan lambatRendah–sedangSebagianBeli ukuran yang sudah besar
Beracun bagi hewan peliharaanSedangYaLetakkan di rak tinggi
Iritasi kulit, mata, dan mulutRendah–sedangYaPakai sarung tangan saat ganti pot
Ujung daun tajamRendahYaTumpulkan ujung dengan gunting
Busuk akarTinggi bagi pemulaYaGunakan media tanam porous
Daun rusak permanenSedangSebagianBuang daun yang rusak
Pot retak dan tanaman olengSedangYaPilih pot plastik dengan dasar berat
Hama dan jamurRendah–sedangYaPeriksa daun setiap minggu
Manfaat pembersih udara terbatasRendahYaAtur ekspektasi
Anggapan pembawa sialBergantung kepercayaanYaSesuaikan dengan nilai keluarga

Penjelasan Kekurangan Tanaman Lidah Mertua

1. Pertumbuhan Lambat

Sansevieria hanya menghasilkan dua sampai empat daun baru per musim tanam. Sebab, tanaman tersebut berevolusi di wilayah kering, sehingga tubuhnya hemat energi dan menahan air dalam daun yang tebal. Selain itu, laju pertumbuhannya turun lagi di dalam ruangan karena cahaya lebih redup dan pot membatasi ruang akar.

Sebagai contoh, bibit setinggi 15 cm bisa tampak hampir sama dua tahun kemudian. Akibatnya, kamu akan kecewa jika berharap sudut ruangan terlihat rimbun dalam hitungan bulan.

TanamanKecepatan TumbuhDaun Baru Muncul
Lidah mertuaLambatBeberapa minggu hingga beberapa bulan
PothosCepat1–2 minggu
PhilodendronCepat1–2 minggu
Sirih gadingCepat1–2 minggu
Tanaman laba-labaSedang–cepat2–3 minggu

Meskipun demikian, kamu bisa menyiasatinya dengan membeli rumpun yang sudah besar, karena ukuran saat pembelian nyaris sama dengan ukuran beberapa tahun kemudian. Di sisi lain, bagi orang yang sibuk, pertumbuhan lambat justru menguntungkan karena tanaman jarang perlu dipangkas atau dipindahkan.

2. Beracun bagi Kucing dan Anjing

ASPCA mencantumkan semua varietas Dracaena trifasciata, termasuk Laurentii, Moonshine, Hahnii, dan Cylindrica, sebagai tanaman beracun bagi kucing dan anjing. Senyawa saponin terkandung di daun, akar, rimpang, dan bunga. Karena itu, kamu perlu menjauhkan seluruh bagian tanaman dari hewan peliharaan.

Gejala yang muncul biasanya air liur berlebih, muntah, diare, dan lesu. Namun, daun sansevieria terasa sangat pahit, sehingga kebanyakan hewan berhenti setelah satu gigitan. Oleh sebab itu, keracunan berat jarang terjadi. Meskipun begitu, anak kucing, anak anjing, dan anjing pengunyah tetap menghadapi risiko paling tinggi.

Kamu bisa mengurangi risiko dengan beberapa langkah:

  • Letakkan pot di rak tinggi atau gantungan yang tidak terjangkau.
  • Tutup akses hewan ke ruangan tempat tanaman berada.
  • Buang daun gugur segera supaya hewan tidak memainkannya.
  • Hubungi dokter hewan bila hewanmu menggigit atau menelan daun.

Toksisitas bersifat tetap. Dengan kata lain, perawatan sebaik apa pun tidak menghilangkannya, sehingga penempatan menjadi satu-satunya solusi andal.

3. Iritasi bagi Anak Kecil dan Kulit Sensitif

Anak yang mengunyah daun akan merasakan iritasi mulut dan tenggorokan, mual, serta pembengkakan ringan. Biasanya, rasa tidak nyaman membuat anak berhenti sendiri. Meskipun demikian, kamu tetap perlu menghubungi tenaga medis.

Selain itu, getah daun yang terpotong atau akar yang rusak bisa memicu dermatitis kontak. Iritasi mata pun mungkin terjadi jika getah masuk ke mata sebelum kamu mencuci tangan. Risiko terbesar muncul saat repotting, pemangkasan, dan perbanyakan lewat stek daun. Oleh karena itu, pakai sarung tangan, lalu cuci tangan sebelum menyentuh wajah.

Di sisi lain, sansevieria tidak melepaskan alergen berarti ke udara. Dengan demikian, penghuni rumah yang sensitif terhadap serbuk sari tidak perlu khawatir selama tidak menyentuh getahnya.

4. Ujung Daun Tajam

Daun dewasa memiliki ujung kaku dan runcing yang bisa menusuk kulit. Apalagi, tinggi ujung daun sering sejajar dengan wajah balita, sehingga tanaman di lantai dekat area bermain berpotensi melukai. Demikian pula, hewan yang mengendus dari atas bisa tertusuk di dekat mata. Lorong sempit dan ambang jendela yang penuh juga menambah peluang bersentuhan tanpa sengaja.

Untuk mengatasinya, potong ujung setiap daun dengan gunting bersih. Prosesnya cukup dua menit, dan tampilan tanaman tetap utuh. Selanjutnya, pilih penempatan berdasarkan jalur lalu lintas rumah, bukan hanya estetika.

5. Rentan Busuk Akar akibat Penyiraman Berlebih

Busuk akar menjadi penyebab utama kematian sansevieria. Sebab, daun yang tebal sudah menyimpan air, sehingga akar tidak butuh siraman sering. Akibatnya, tanah yang terus basah membuat akar kekurangan oksigen, lalu jamur menyerang.

Gejalanya meliputi:

  • Daun lembek dan berair di bagian pangkal.
  • Daun menguning, lalu terkulai atau melengkung.
  • Pangkal tanaman berbau asam.
  • Akar berwarna cokelat, lunak, dan mudah hancur saat disentuh.

Untuk mencegahnya, kamu perlu menyiram jarang, memakai pot berlubang drainase, dan memilih media tanam porous. Misalnya, campurkan tanah pot dengan pasir kasar, perlit, atau sekam bakar. Sebaliknya, hindari tanah kebun murni karena mudah memadat dan menyimpan jamur penyebab penyakit.

Selain itu, media bawaan penjual tanaman sering menahan air terlalu lama karena penjual memilihnya untuk produksi massal, bukan untuk pemeliharaan jangka panjang. Karena itu, ganti media segera setelah kamu membawa pulang tanamannya.

6. Kerusakan Daun Bersifat Permanen

Sel daun yang rusak tidak beregenerasi. Dengan kata lain, ujung cokelat tetap cokelat, jaringan bekas dingin tetap berbekas, dan daun yang terlipat saat pengiriman tetap bengkok.

Penyebab umumnya meliputi:

  • Sinar matahari terik yang datang tiba-tiba, terutama setelah tanaman pindah dari tempat teduh.
  • Suhu dingin di bawah 10 °C.
  • Pupuk berlebih yang membakar akar dan mengeringkan ujung daun.
  • Benturan atau gesekan dengan dinding dan furnitur.

Sayangnya, satu-satunya solusi adalah memotong daun yang rusak dan menunggu daun baru. Sementara itu, karena pertumbuhannya lambat, proses penggantian bisa memakan waktu berbulan-bulan. Oleh sebab itu, adaptasikan tanaman ke cahaya baru secara bertahap agar daun tidak terbakar.

7. Rimpang Merusak Pot dan Tanaman Menjadi Berat di Atas

Sansevieria menyebar lewat rimpang bawah tanah yang menumbuhkan tunas baru. Akibatnya, rimpang menekan dinding wadah di dalam pot sempit. Pot keramik dan tanah liat bisa retak setelah beberapa tahun. Bahkan, lapisan glasir kadang menyembunyikan retakan sampai pot pecah.

Di samping itu, varietas besar bisa mencapai tinggi 90 sampai 120 cm. Ketika daun bertambah, sistem akar tetap kompak, sehingga pot ringan mudah terguling.

Jenis PotRisiko RetakSaran
Tanah liatTinggiPakai pot plastik sebagai lapisan dalam
KeramikTinggiPakai pot plastik sebagai lapisan dalam
PlastikRendahAman untuk jangka panjang

Oleh karena itu, ganti pot setiap tiga sampai lima tahun, atau saat akar mulai menyembul dari lubang drainase. Pilih pot satu ukuran lebih besar dengan dasar yang berat.

8. Serangan Hama dan Jamur

Sansevieria relatif tahan hama, tetapi tidak kebal. Misalnya, kutu putih, tungau laba-laba, dan thrips menghisap cairan daun sehingga daun berubah warna, menggulung, atau cacat. Selain itu, di iklim tropis yang lembap, jamur penyebab bercak daun mudah muncul saat sirkulasi udara buruk dan tanah basah.

Kamu bisa mengendalikannya dengan cara berikut:

  • Periksa sela-sela daun dan permukaan tanah setiap kali menyiram.
  • Usap hama dengan kain yang dibasahi air sabun atau minyak hortikultura.
  • Pangkas bagian yang terinfeksi jamur.
  • Pisahkan tanaman yang terserang dari tanaman lain.

9. Kemampuan Pembersih Udara Terbatas

Studi NASA pada akhir 1980-an memang memasukkan sansevieria ke dalam daftar tanaman penyaring polutan. Namun, peneliti melakukan uji di ruang tertutup kecil, sehingga kondisinya berbeda jauh dari rumah dengan ventilasi normal. Dengan demikian, kamu butuh puluhan tanaman per ruangan untuk merasakan efek nyata. Bahkan, peace lily dan pakis Boston menunjukkan kemampuan lebih besar dalam beberapa uji.

Karena itu, pilih sansevieria karena bentuk daunnya yang tegak dan artistik, bukan karena klaim purifikasi udara. Anggap efek pembersih udara sebagai bonus kecil.

10. Anggapan sebagai Pembawa Sial

Sebagian masyarakat menganggap lidah mertua membawa energi negatif karena bentuk daunnya yang runcing dan namanya yang identik dengan mertua. Sebaliknya, kepercayaan lain, termasuk beberapa tradisi feng shui, memandangnya sebagai penolak bala dan pelindung rumah. Pada kenyataannya, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung keduanya. Jadi, kamu bebas memilih sesuai nilai dan kenyamanan keluargamu.

Pengalaman Merawat Lidah Mertua

Dari pengalaman merawat sansevieria di dalam ruangan, kesalahan terbesar berasal dari rasa sayang yang berlebihan. Awalnya, saya menyiram seminggu sekali seperti tanaman lain. Akibatnya, dalam sebulan dua daun melembek dan pangkalnya berbau asam. Setelah saya mengeluarkan tanaman dari pot, akarnya ternyata cokelat dan hancur begitu tersentuh.

Kemudian, saya memotong bagian yang busuk dengan gunting steril dan membiarkan luka mengering satu hari. Setelah itu, saya menanam ulang di campuran tanah dan pasir kasar dengan perbandingan sama. Sejak saat itu, saya menyiram hanya setiap tiga sampai empat minggu. Hasilnya, daun baru muncul empat bulan kemudian.

Pelajaran kedua datang dari pot keramik kesayangan saya. Setelah tiga tahun, dasarnya retak halus dan air merembes ke lantai. Oleh karena itu, saya memakai pot plastik sebagai lapisan dalam.

Pelajaran ketiga menyangkut ujung daun. Sesudah saya menumpulkan ujung yang tajam, tidak ada lagi tusukan saat saya membersihkan debu di daun. Singkatnya, jari kamu adalah alat ukur kelembapan yang paling akurat: tancapkan sampai buku jari kedua, lalu siram hanya jika tanah terasa kering total.

Kesalahan Perawatan yang Memperparah Kekurangan Tanaman Lidah Mertua

Selain kelemahan bawaan, kebiasaan pemilik sering memperburuk keadaan. Berikut daftar kesalahan yang paling sering terjadi.

KesalahanAkibatCara Memperbaiki
Menyiram sesuai jadwal tetapAkar membusukCek tanah sebelum menyiram
Memakai pot tanpa lubangAir menggenangPindah ke pot berlubang
Menaruh di tempat gelap terus-menerusDaun panjang, tipis, dan lemah (etiolasi)Pindahkan ke cahaya terang tidak langsung
Memberi pupuk terlalu seringUjung daun cokelatBeri pupuk encer sekali per musim tanam
Memindahkan tanaman ke matahari terik mendadakDaun terbakarAdaptasi bertahap selama satu sampai dua minggu
Mengabaikan hama kecilDaun cacat dan menggulungPeriksa rutin setiap minggu
Memakai tanah kebunDrainase burukGanti dengan media porous

Cara Mengatasi Masalah Daun Lidah Mertua

Apabila gejala sudah muncul, tabel berikut membantu kamu menemukan penyebab dan tindakan yang tepat. Namun, ingat bahwa hampir semua masalah berawal dari pola penyiraman, sehingga periksa kelembapan tanah terlebih dahulu.

GejalaPenyebab UtamaTindakan
Daun terkulaiAir berlebih atau kurangCek kelembapan, siram bila kering
Daun panjang dan tipisCahaya kurangPindah ke tempat lebih terang
Daun lembekDrainase buruk dan busuk akarGanti media, potong akar busuk
Ujung cokelatSinar terik atau pupuk berlebihKurangi paparan dan pupuk
Daun keriputKekurangan air atau stres pindahSiram perlahan, beri waktu adaptasi
Daun menggulungKekurangan air, thrips, pupuk berlebihPeriksa hama, kurangi pupuk
Pertumbuhan berhentiPot sempit atau cahaya minimGanti pot, tambah cahaya

Siapa yang Cocok dan Tidak Cocok Memelihara Sansevieria?

Meskipun punya banyak kelemahan, sansevieria tetap cocok untuk sebagian orang. Sansevieria cocok untuk kamu yang:

  • Sering bepergian atau sibuk bekerja.
  • Menyukai dekorasi minimalis dengan daun tegak.
  • Tidak memiliki hewan peliharaan pengunyah atau balita.
  • Bersedia menyiram jarang dan sabar menunggu pertumbuhan.

Sebaliknya, sansevieria kurang cocok untuk kamu yang:

  • Ingin hasil visual rimbun dalam waktu singkat.
  • Memiliki anak kucing, anak anjing, atau balita yang aktif menjelajah.
  • Sulit menahan diri untuk tidak menyiram tanaman setiap minggu.
  • Berharap tanaman berbunga secara rutin.

Alternatif Tanaman Hias yang Lebih Ramah Hewan

Jika sansevieria terasa berisiko, kamu bisa mempertimbangkan tanaman berikut. Selain lebih aman, beberapa di antaranya tumbuh lebih cepat.

TanamanKeunggulanCatatan
Palem arecaRimbun dan tropisButuh cahaya terang
CalatheaCorak daun indahButuh kelembapan tinggi
Tanaman laba-labaTumbuh cepat, mudah diperbanyakAman bagi kucing dan anjing
PeperomiaKompak, cocok untuk mejaSiram sedang
Pakis BostonMembersihkan udara dengan baikButuh kelembapan stabil

Kamu pernah mengalami daun lembek, pot retak, atau hewan peliharaan yang menggigit sansevieria? Tulis ceritamu, lalu bagikan artikel ke teman atau keluarga yang sedang memilih tanaman hias. Dengan begitu, pengalamanmu bisa menyelamatkan tanaman orang lain.

Baca juga:

FAQ

1. Apa kekurangan utama tanaman lidah mertua?

Kekurangan utamanya adalah pertumbuhan yang lambat, racun saponin bagi hewan peliharaan, mudah busuk akar bila terlalu sering disiram, dan kerusakan daun yang bersifat permanen. Untungnya, kamu bisa mengendalikan semua kelemahan tersebut lewat penempatan dan perawatan yang tepat.

2. Apakah lidah mertua berbahaya bagi kucing dan anjing?

Ya. Saponin dalam daun dan akar bisa menyebabkan muntah, diare, dan air liur berlebih. Meskipun kasus berat jarang terjadi karena rasanya pahit, kamu perlu segera menghubungi dokter hewan jika hewanmu memakannya.

3. Mengapa daun lidah mertua menguning dan lembek?

Penyebab paling umum adalah penyiraman berlebih yang memicu busuk akar. Oleh karena itu, keluarkan tanaman dari pot, potong akar yang busuk, lalu tanam ulang di media yang cepat kering.

4. Apakah lidah mertua membawa sial?

Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut. Sebaliknya, kepercayaan itu murni bagian dari budaya, dan sebagian orang justru meyakini tanaman ini membawa energi positif.

5. Seberapa sering saya harus menyiram lidah mertua?

Siram setiap dua sampai empat minggu, atau saat tanah sudah kering sepenuhnya. Selain itu, kurangi frekuensi saat musim hujan atau ketika ruangan lembap.

Referensi

  1. American Society for the Prevention of Cruelty to Animals. (n.d.). Snake plant. ASPCA Animal Poison Control. Diakses 28 September 2026, dari https://www.aspca.org/pet-care/aspca-poison-control/toxic-and-non-toxic-plants/snake-plant
  2. American Society for the Prevention of Cruelty to Animals. (n.d.). Mother-in-law’s tongue. ASPCA Animal Poison Control. Diakses 28 September 2026, dari https://www.aspca.org/pet-care/aspca-poison-control/toxic-and-non-toxic-plants/mother-laws-tongue
  3. Cummings, B. E., & Waring, M. S. (2020). Potted plants do not improve indoor air quality: A review and analysis of reported VOC removal efficiencies. Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology, 30(2), 253–261. https://doi.org/10.1038/s41370-019-0175-9
  4. North Carolina State University Extension. (n.d.). Dracaena trifasciata (Golden bird’s nest, good luck plant, mother-in-law’s tongue, snake plant). North Carolina Extension Gardener Plant Toolbox. Diakses 28 September 2026, dari https://plants.ces.ncsu.edu/plants/dracaena-trifasciata/
  5. Penn State Extension. (2023, 20 September). Snake plant: A forgiving, low-maintenance houseplant. https://extension.psu.edu/snake-plant-a-forgiving-low-maintenance-houseplant
  6. Takawira-Nyenya, R., Mucina, L., Cardinal-McTeague, W. M., & Thiele, K. R. (2018). Sansevieria (Asparagaceae, Nolinoideae) is a herbaceous clade within Dracaena: Inference from non-coding plastid and nuclear DNA sequence data. Phytotaxa, 376(6), 254–276. https://doi.org/10.11646/phytotaxa.376.6.2
  7. Wolverton, B. C., Johnson, A., & Bounds, K. (1989). Interior landscape plants for indoor air pollution abatement (NASA-TM-101766). National Aeronautics and Space Administration, John C. Stennis Space Center. https://ntrs.nasa.gov/api/citations/19930073077/downloads/19930073077.pdf

di review oleh tim reviewers

Scroll to Top