Tanaman Penyerap Radiasi
Tanaman penyerap radiasi yang paling sering direkomendasikan meliputi kaktus, lidah mertua, lidah buaya, palem areca, karet kebo, dan spider plant. Memang, daun dan batang yang kaya air dapat meredam sebagian energi sinyal radio. Namun, bukti pengukuran untuk tanaman pot di dalam ruangan masih sangat terbatas. Selain itu, pengukuran pada vegetasi menunjukkan bahwa kerapatan dan geometri lebih menentukan redaman sinyal daripada jenis tanaman (Savage dkk., 2003).
Bagaimana Cara Tanaman Menyerap dan Menahan Radiasi?
Secara umum, tanaman dapat berinteraksi dengan gelombang elektromagnetik lewat empat mekanisme: penyerapan, penyebaran, pemantulan, dan penghalangan jalur langsung.
1. Kandungan Air dalam Jaringan Tanaman
Pertama, jaringan yang kaya air dapat menyerap sebagian energi sinyal radio. Karena itu, kaktus dan tanaman berdaun tebal sering diajukan sebagai kandidat peredam sinyal.
2. Kerapatan dan Kedalaman Dedaunan
Faktor penentu terbesar adalah kerapatan, kedalaman, dan posisi vegetasi. Misalnya, pengukuran pada frekuensi 1,3, 2, dan 11,6 GHz menemukan bahwa kerapatan vegetasi, geometri pengukuran, dan kondisi daun lebih berpengaruh daripada spesies pohon atau bentuk daunnya (Savage dkk., 2003). Selain itu, pada 2,4 GHz pengaruh dedaunan tergolong kecil karena panjang gelombangnya lebih besar daripada ukuran daun (Vougioukas dkk., 2013).
3. Jenis Radiasi yang Berbeda
Sinyal WiFi dan ponsel adalah radiasi non-pengion, sehingga tidak memiliki energi cukup untuk melepaskan elektron dari atom. Sebaliknya, radiasi pengion seperti sinar-X dan sinar gamma memiliki energi jauh lebih tinggi (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], n.d.). Dengan demikian, hasil penelitian untuk satu jenis radiasi tidak otomatis berlaku untuk jenis lainnya.
7 Tanaman Penyerap Radiasi untuk Rumah dan Ruang Kerja
1. Kaktus
Kaktus tampil di hampir setiap pembahasan tanaman anti radiasi. Namun, pengujian kaktus di dekat monitor LCD dan tabung (CRT) menyimpulkan bahwa kaktus tidak menurunkan medan magnet frekuensi rendah (ELF) di sekitarnya (Erensayın dkk., 2019). Oleh karena itu, perlakukan kaktus sebagai pelengkap dekorasi meja kerja, bukan tameng.
2. Lidah Mertua (Sansevieria)
Daunnya yang tebal dan tegak membentuk barisan padat bila kamu mengelompokkan beberapa pot. Selain itu, tanaman ini tahan banting dan jarang butuh penyiraman. Pada uji kamar tertutup dengan formaldehida 5 ppm selama tujuh hari, laju penyerapan tertinggi tercatat pada hari kelima, meskipun tanaman juga menunjukkan tanda stres (Li dkk., 2024). Akan tetapi, hasil uji kamar seperti ini belum tentu terulang di rumah dengan sirkulasi udara normal (Cummings & Waring, 2020). Lagi pula, pengaruh lidah mertua pada sinyal radio belum diuji.
3. Lidah Buaya (Aloe Vera)
Daun tebal dengan gel berair menjadikan lidah buaya kandidat peredam sinyal. Namun, penelitian tentang perlindungan radiasi pada lidah buaya berfokus pada kulit pasien radioterapi, bukan pada ruangan. Sebagai contoh, satu uji klinis melaporkan bahwa lotion lidah buaya mengurangi keparahan dermatitis akibat radiasi (Haddad dkk., 2013). Sebaliknya, tinjauan sistematik yang lebih awal tidak menemukan bukti efektivitasnya (Richardson dkk., 2005). Meskipun demikian, kamu tetap bisa memanfaatkannya sebagai tanaman herbal sekaligus penghias dekat jendela.
4. Palem Areca (Palem Kuning)
Areca populer sebagai tanaman hias ruang tamu karena tinggi dan rimbun. Akan tetapi, kami belum menemukan pengukuran terbitan yang menunjukkan seberapa besar areca meredam sinyal WiFi. Meskipun demikian, tanaman setinggi pinggang hingga dada ini tetap cocok untuk memperindah ruang tamu yang luas.
5. Karet Kebo (Ficus)
Ficus berdaun lebar, tebal, dan mengilap, sehingga sering disebut sebagai peredam sinyal. Namun, seperti areca, belum ada pengukuran terbitan yang kami temukan untuk spesies ini pada frekuensi WiFi. Di sisi lain, susunan yang lebih padat memang berpotensi meredam lebih banyak, sejalan dengan temuan bahwa kerapatan vegetasi adalah faktor utama (Savage dkk., 2003). Selain itu, hati-hati karena getah ficus bisa mengiritasi kulit dan beracun bagi hewan peliharaan.
6. Spider Plant (Lili Paris)
Tanaman ini tumbuh cepat dan menjuntai, sehingga kamu bisa menggantungnya di dekat jendela atau televisi. Selain itu, spider plant termasuk tanaman uji dalam studi NASA tentang penyaringan polutan udara dalam ruangan (Wolverton dkk., 1989). Akan tetapi, studi tersebut tidak mengukur peredaman gelombang elektromagnetik.
7. Sirih Gading dan Pakis Asparagus
Sirih gading mudah merambat dan hampir tanpa perawatan khusus. Sementara itu, pakis asparagus punya struktur halus dan meminta kelembapan terjaga. Namun, kami tidak menemukan studi yang mengukur pengaruh keduanya pada sinyal maupun radiasi, sehingga sebaiknya kamu menganggap keduanya sebagai tanaman hias semata.
Tabel Tanaman Penyerap Radiasi
| Tanaman | Ciri Utama | Dukungan Penelitian | Penempatan yang Disarankan |
|---|---|---|---|
| Karet kebo (Ficus) | Daun lebar, tebal, mengilap | Belum ada pengukuran khusus; redaman vegetasi umumnya bergantung pada kerapatan (Savage dkk., 2003) | Barisan rapat di antara router dan ruang aktivitas |
| Palem areca | Tinggi, daun rimbun | Belum ada pengukuran khusus; lihat catatan di atas | Sudut ruang tamu atau jalur sinyal |
| Lidah mertua | Daun tegak, tahan kering | Uji kamar formaldehida (Li dkk., 2024); sinyal belum diuji | Kelompok pot di dekat perangkat |
| Kaktus | Batang berair, perawatan mudah | Uji ELF: tidak menurunkan medan magnet (Erensayın dkk., 2019) | Meja kerja sebagai pelengkap |
| Lidah buaya | Daun berair tebal | Uji klinis gel pada kulit, hasil beragam (Haddad dkk., 2013; Richardson dkk., 2005) | Dekat jendela terang |
| Spider plant | Daun menjuntai, tumbuh cepat | Uji penyaringan udara (Wolverton dkk., 1989) | Keranjang gantung |
| Sirih gading dan pakis asparagus | Merambat; daun halus | Belum ada studi sinyal atau radiasi | Ruang dengan cahaya tidak langsung |
Fakta dan Mitos: Apakah Tanaman Melindungi Tubuh dari Radiasi?
Klaim bahwa satu pot tanaman melindungi tubuh dari radiasi gawai terlalu jauh dari bukti yang ada. Untuk itu, beberapa hal perlu kamu catat:
- Pertama, penelitian redaman sinyal pada vegetasi mengukur sinyal nirkabel, bukan penurunan risiko kesehatan manusia (Savage dkk., 2003).
- Kedua, redaman terukur muncul pada vegetasi yang rapat dan dalam, bukan pada satu tanaman kecil (Savage dkk., 2003).
- Ketiga, kemampuan tanaman menyaring udara dalam studi kamar uji belum tentu terulang di rumah. Bahkan, dalam kajian terhadap 12 studi, laju pembersihan udara oleh tanaman pot jauh lebih lambat daripada pertukaran udara biasa di gedung (Cummings & Waring, 2020).
- Keempat, tanaman memang dapat menyerap zat radioaktif dari tanah (fitoremediasi). Akan tetapi, proses itu berbeda dari meredam sinyal WiFi. Misalnya, pada percobaan di sekitar Chernobyl, tiga kali panen sawi india dalam satu musim hanya menurunkan radioaktivitas cesium-137 tanah sedikit (Dushenkov dkk., 1999).
- Kelima, WiFi dan ponsel memancarkan radiasi non-pengion, yang berbeda dari radiasi pengion seperti sinar-X (CDC, n.d.). Selain itu, menurut World Health Organization (WHO, n.d.), riset yang sangat banyak belum menemukan bukti bahwa paparan medan elektromagnetik tingkat rendah membahayakan kesehatan manusia.
Oleh karena itu, pilih tanaman karena manfaatnya bagi suasana, kelembapan, dan kenyamanan ruang. Jangan menjadikannya satu-satunya pelindung.
Cara Menempatkan Tanaman agar Efeknya Maksimal
- Pertama, susun beberapa tanaman berdaun lebat dalam satu barisan rapat di antara sumber sinyal dan tempat kamu beraktivitas, karena kerapatan vegetasi adalah faktor utama redaman (Savage dkk., 2003).
- Kedua, pilih pot yang besar dan tanaman yang tinggi, bukan sukulen mungil.
- Ketiga, jaga daun tetap sehat, sebab pengukuran pada pohon menunjukkan kondisi daun memengaruhi besarnya redaman (Savage dkk., 2003).
- Keempat, beri jarak antara tanaman dan perangkat listrik bersuhu tinggi agar daun tidak layu.
- Terakhir, sesuaikan dengan kebutuhan cahaya: lidah mertua toleran terhadap cahaya redup, sedangkan lidah buaya butuh lebih banyak terang.
Uji Sendiri di Rumah: Pengalaman Langsung yang Bisa Kamu Coba
Kamu bisa membuktikan sendiri pengaruh tanaman terhadap sinyal WiFi tanpa alat mahal. Berikut langkah-langkahnya:
- Pertama, pasang aplikasi pengukur kekuatan sinyal WiFi (dBm) di ponselmu.
- Kedua, catat nilai sinyal di titik tertentu pada jarak tetap dari router.
- Ketiga, susun tiga sampai lima pot tanaman berdaun lebat rapat di antara router dan titik ukur.
- Keempat, ukur ulang di posisi dan ketinggian ponsel yang sama.
- Terakhir, bandingkan hasilnya, lalu ulangi beberapa kali untuk mendapat rata-rata, karena nilai dBm pada ponsel naik turun sehingga satu kali ukur tidak cukup.
Selanjutnya, catat hasil, jenis tanaman, dan jarak ukurmu. Dengan demikian, hasil ujimu sendiri bisa lebih berguna daripada klaim yang beredar.
Cara Lain Mengurangi Paparan Radiasi Gawai
- Pertama, jauhkan router dari kamar tidur dan meja kerja.
- Selain itu, gunakan speaker atau earphone kabel saat menelepon lama.
- Kemudian, matikan WiFi saat tidur.
- Lalu, letakkan ponsel agak jauh dari badan saat tidak dipakai.
- Terakhir, batasi waktu layar, terutama sebelum tidur.
Pada akhirnya, tanaman penyerap radiasi tidak menggantikan kebiasaan sehat dalam memakai perangkat, tetapi ruangan kamu ikut terasa lebih hijau. Oleh karena itu, bagikan artikel ini ke teman atau keluarga yang sering bekerja di depan layar. Sebab, rumah yang hijau tidak menolak teknologi, ia hanya mengajak kamu hidup berdampingan dengannya dengan lebih tenang.
Baca juga:
- Tanaman Penyerap Bau, Ini 13 Jenis Terbaik untuk Rumah
- Tanaman Penyerap Kelembaban Ruangan: 8 Jenis dan Cara Merawatnya
- Cara Merawat Sirih Gading di Dalam Rumah agar Tumbuh Subur dan Variegasinya Tetap Cantik
- Manfaat Sirih Gading untuk Rumah: Benarkah Bersihkan Udara?
- Mitos Tanaman Lidah Mertua dan Fakta Ilmiahnya
FAQ
1. Apa saja tanaman penyerap radiasi?
Tanaman yang paling sering disebut adalah kaktus, lidah mertua, lidah buaya, palem areca, karet kebo (Ficus), spider plant, sirih gading, dan pakis asparagus. Namun, bukti pengukuran untuk meredam sinyal nirkabel pada tanaman-tanaman ini masih terbatas.
2. Apakah tanaman benar-benar bisa menyerap radiasi WiFi?
Sebagian saja. Vegetasi yang rapat dan dalam dapat meredam sinyal radio, dan kerapatan lebih menentukan daripada spesies (Savage dkk., 2003). Selain itu, pada 2,4 GHz pengaruh dedaunan tergolong kecil (Vougioukas dkk., 2013). Dengan demikian, satu pot kecil tidak memberi efek berarti.
3. Tanaman apa yang paling efektif meredam sinyal?
Sampai saat ini, belum ada bukti yang cukup untuk menyebut satu spesies terbaik. Sebab, kerapatan dan kedalaman vegetasi lebih berpengaruh daripada jenis tanaman (Savage dkk., 2003).
4. Di mana sebaiknya kamu meletakkan tanaman penyerap radiasi?
Letakkan di antara sumber sinyal (router, televisi, komputer) dan tempat kamu sering beraktivitas. Selain itu, kelompokkan beberapa tanaman berdaun lebat agar membentuk penghalang yang rapat.
5. Apakah tanaman bisa melindungi kesehatan dari radiasi gawai?
Belum ada bukti yang menunjukkan tanaman rumah menurunkan risiko kesehatan akibat radiasi gawai. Sebab, penelitian yang tersedia mengukur redaman sinyal, bukan dampak pada tubuh. Selain itu, WHO (n.d.) menyatakan belum ada bukti bahwa paparan medan elektromagnetik tingkat rendah membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, kurangi paparan lewat jarak, durasi pemakaian, dan penempatan perangkat.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). About non-ionizing radiation. https://www.cdc.gov/radiation-health/about/non-ionizing-radiation.html
- Cummings, B. E., & Waring, M. S. (2020). Potted plants do not improve indoor air quality: A review and analysis of reported VOC removal efficiencies. Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology, 30, 253–261. https://doi.org/10.1038/s41370-019-0175-9
- Dushenkov, S., Mikheev, A., Prokhnevsky, A., Ruchko, M., & Sorochinsky, B. (1999). Phytoremediation of radiocesium-contaminated soil in the vicinity of Chernobyl, Ukraine. Environmental Science & Technology, 33(3), 469–475. https://www.osti.gov/biblio/323812
- Erensayın, E., Topaloğlu, N., Calp, M. H., & Savaş, S. (2019). Bilgisayar ekranlarının yaydığı manyetik alanlar üzerinde kaktüs bitkisinin etkisi [Effect of cactus plants on magnetic fields emitted by computer screens]. Gümüşhane Üniversitesi Fen Bilimleri Dergisi, 9(1), 70–79. https://doi.org/10.17714/gumusfenbil.393173
- Haddad, P., Amouzgar-Hashemi, F., Samsami, S., Chinichian, S., & Oghabian, M. A. (2013). Aloe vera for prevention of radiation-induced dermatitis: A self-controlled clinical trial. Current Oncology, 20(4), e345–e348. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23904773/
- Li, J., Chen, S., Zhong, J., Lin, S., Pang, S., Tu, Q., … Agranovski, I. (2024). Removal of formaldehyde from indoor air by potted Sansevieria trifasciata plants: Dynamic influence of physiological traits on the process. Environmental Science and Pollution Research, 31(54), 62983–62996. https://doi.org/10.1007/s11356-024-35366-4
- Richardson, J., Smith, J. E., McIntyre, M., Thomas, R., & Pilkington, K. (2005). Aloe vera for preventing radiation-induced skin reactions: A systematic literature review. Clinical Oncology, 17, 478–484. https://doi.org/10.1016/j.clon.2005.04.013
- Savage, N., Ndzi, D., Seville, A., Vilar, E., & Austin, J. (2003). Radio wave propagation through vegetation: Factors influencing signal attenuation. Radio Science, 38(5), 9-1–9-14. https://doi.org/10.1029/2002RS002758
- Vougioukas, S. G., Anastassiu, H. T., Regen, C., & Zude, M. (2013). Influence of foliage on radio path losses (PLs) for wireless sensor network (WSN) planning in orchards. Biosystems Engineering, 114(4), 454–465. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1537511012001481
- Wolverton, B. C., Johnson, A., & Bounds, K. (1989). Interior landscape plants for indoor air pollution abatement (NASA Technical Report). National Aeronautics and Space Administration. https://ntrs.nasa.gov/search.jsp?R=19930073077
- World Health Organization. (n.d.). Radiation: Electromagnetic fields [Questions and answers]. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/radiation-electromagnetic-fields
Aqilla Putri Pasla, seorang pengamat lingkungan yang berfokus pada ekologi, konservasi, dan gaya hidup berkelanjutan melalui Konten yang berbasis fakta, tips praktis, serta wawasan edukatif.



