Lidah Mertua
Lidah mertua adalah tanaman hias berdaun tegak seperti pedang dari famili Asparagaceae, dan banyak orang menanamnya di rumah, kantor, maupun pekarangan. Selain itu, kamu akan menemukan nama sansevieria, tanaman ular, dan snake plant untuk tanaman yang sama. Oleh karena itu, uraian berikut membahas asal-usul, perubahan nama ilmiah, klasifikasi, morfologi, fisiologi, manfaat, budi daya, perawatan, hama, toksisitas, dan makna budayanya. Selanjutnya, setiap bagian memuat tabel ringkas dan pengalaman merawat langsung.
Apa Itu Lidah Mertua?
Lidah mertua adalah tumbuhan hijau abadi dan menahun yang membentuk rumpun padat dengan daun kaku, tegak, dan berbentuk pedang. Selain itu, tanaman tersebut menyebar lewat rimpang, tahan kekeringan, dan toleran terhadap cahaya rendah. Karena perawatannya sederhana, para ahli hortikultura sering merekomendasikannya bagi pemula. Akibatnya, kamu mudah menemukan tanaman tersebut di tepi jalan, taman, pekarangan, hingga meja kerja.
1. Asal-Usul dan Sebaran
Tanaman ular berasal dari Afrika Barat tropis, mulai dari Nigeria di timur hingga Kongo. Sementara itu, beberapa jenis sansevieria lain juga tumbuh di Asia. Sekarang, orang membudidayakannya di seluruh dunia. Di daerah tropis, misalnya, petani dan pehobi menanamnya di luar ruangan, baik dalam pot maupun bedeng taman. Sebaliknya, di daerah beriklim dingin, orang menempatkannya di dalam ruangan. Bahkan, sebagian otoritas di Australia menganggapnya gulma potensial karena tanaman tersebut mudah menyebar lewat rimpang.
2. Perubahan Nama Ilmiah: dari Sansevieria ke Dracaena
Selama puluhan tahun, literatur hortikultura mencantumkan nama Sansevieria trifasciata. Namun, sejak 2017 telaah filogenetik memasukkan sansevieria ke genus Dracaena, sehingga nama yang berlaku sekarang adalah Dracaena trifasciata. Meskipun demikian, kamu masih akan menemukan nama lama di toko tanaman, jurnal lama, dan sebagian besar situs Indonesia. Oleh sebab itu, kamu bisa memakai kedua nama saat mencari referensi, karena keduanya merujuk pada tanaman yang sama.
3. Nama Lain dan Sinonim
| Nama | Asal atau alasan penamaan |
|---|---|
| Lidah mertua | Daun tajam dan runcing menyerupai lidah yang pedas |
| Sansevieria | Nama genus lama sebelum 2017 |
| Tanaman ular (snake plant) | Bentuk dan pola daun menyerupai ular |
| Pedang Santo Georgius | Bentuk daun seperti pedang; sebutan populer di Eropa dan Brasil |
| Rami tali busur viper | Seratnya dulu orang pakai untuk membuat tali busur |
| Mother-in-law’s tongue | Padanan bahasa Inggris untuk lidah mertua |
4. Klasifikasi Ilmiah
| Tingkat taksonomi | Keterangan |
|---|---|
| Kerajaan | Plantae |
| Divisi | Angiospermae |
| Kelas | Monocotyledonae |
| Ordo | Asparagales |
| Famili | Asparagaceae |
| Genus | Dracaena (sebelumnya Sansevieria) |
| Spesies | Dracaena trifasciata (sinonim: Sansevieria trifasciata) |
Ciri Morfologi Lidah Mertua
Kamu bisa mengenali tanaman tersebut dari bentuk daunnya yang kaku dan tegak. Agar lebih jelas, tabel berikut merangkum ciri tiap bagian tanaman.
| Bagian | Ciri utama |
|---|---|
| Daun | Berbentuk pedang, tumbuh dari roset basal, panjang 70–90 cm, lebar 5–6 cm (Pramono, 2008) |
| Warna daun | Hijau tua dengan pita melintang hijau keabu-abuan; kultivar tertentu memiliki tepi kuning |
| Tekstur | Keras, kaku, berdaging tebal, permukaan halus |
| Ujung daun | Meruncing atau tumpul, tergantung kultivar |
| Rimpang | Menjalar di permukaan atau di bawah tanah, membentuk rumpun padat |
| Akar | Serabut dan dangkal |
| Bunga | Putih kehijauan hingga krem, lengket, sebagian harum pada malam hari |
| Tinggi | 15 cm hingga lebih dari 2 m pada kondisi optimal |
Selain itu, bunga sansevieria jarang muncul di luar habitat aslinya. Karena itu, kamu perlu meniru lingkungan alaminya, misalnya dengan pot sempit, cahaya terang, dan siraman terbatas, jika ingin melihat tangkai bunganya.
Kultivar Lidah Mertua yang Populer
Di seluruh dunia terdapat lebih dari 600 kultivar sansevieria, dan sekitar 100 di antaranya tumbuh di Indonesia. Meskipun berasal dari spesies yang sama, setiap kultivar punya perbedaan bentuk, ukuran, warna, dan tekstur daun. Berikut kultivar yang paling populer.
| Kultivar | Ciri singkat | Catatan |
|---|---|---|
| Laurentii | Tepi daun kuning | Meraih Award of Garden Merit dari Royal Horticultural Society |
| Hahnii | Roset pendek, rapat, berbentuk mangkuk | Ditemukan tahun 1939 di New Orleans oleh William W. Smith Jr.; paten 1941 atas nama Sylvan Frank Hahn |
| Golden Hahnii | Variegata kuning pada roset pendek | Meraih Award of Garden Merit |
| Silver Hahnii | Daun keperakan | Varian Hahnii |
| Bantel’s Sensation | Daun ramping berpita putih | Meraih Award of Garden Merit |
| Compacta | Bentuk ringkas | Cocok untuk meja dan rak |
| Silbersee | Warna keperakan | Populer di pasar tanaman hias |
| Goldiana | Variegata kuning | Kultivar klasik |
Di pasaran, penjual kadang menawarkan bentuk polos tanpa variegasi sebagai Sansevieria zeylanica. Padahal, spesies tersebut berbeda dan jarang orang budi dayakan. Oleh karena itu, kamu perlu memeriksa label dan ciri daun sebelum membeli.
Fisiologi Lidah Mertua: Mengapa Tanaman Tahan Kering?
Sansevieria menukar oksigen dan karbon dioksida lewat crassulacean acid metabolism (CAM). Pertama, stomata, yaitu pori mikroskopis pada permukaan daun, tetap tertutup pada siang hari agar air tidak menguap di bawah terik matahari. Kemudian, pada malam hari stomata membuka, dan tanaman mengambil karbon dioksida lalu menyimpannya sebagai asam organik untuk fotosintesis keesokan harinya.
Mekanisme tersebut menjelaskan tiga hal. Pertama, tanaman bertahan lama tanpa siraman. Kedua, daunnya berdaging tebal karena menyimpan air. Ketiga, tanaman cocok untuk kamar tidur, sebab penyerapan karbon dioksida terjadi saat kamu beristirahat. Namun, jaringan daun yang menyimpan banyak air juga membuat tanaman rentan membusuk saat media terlalu basah.
Kandungan Kimia Lidah Mertua
Dua kelompok senyawa paling sering muncul dalam literatur tentang tanaman ular. Tabel berikut merangkum peran keduanya.
| Senyawa | Peran | Catatan |
|---|---|---|
| Pregnane glikosid | Sumber kemampuan tanaman menguraikan polutan menjadi asam organik, gula, dan asam amino | Klaim populer; bukti kuantitatif pada kondisi rumah masih terbatas |
| Saponin | Pertahanan alami tanaman | Agak toksik bagi anjing, kucing, dan manusia bila tertelan dalam jumlah besar (Mien dkk., 2015) |
Dengan demikian, kamu sebaiknya memandang kedua senyawa tersebut sebagai dua sisi mata uang yang sama, yaitu sistem pertahanan alami tanaman yang menguntungkan sekaligus berisiko.
Manfaat Lidah Mertua bagi Rumah dan Lingkungan
Berikut ini manfaat lidah mertua:
1. Klaim dan Bukti tentang Penyaringan Udara
Studi Udara Bersih NASA (Wolverton dkk., 1989) menempatkan sansevieria di antara tanaman yang dapat menyaring polutan udara dalam ruangan. Menurut studi tersebut, tanaman menghilangkan empat dari lima racun utama penyebab sindrom bangunan sakit. Selain itu, sumber populer Indonesia menyebut formaldehida, xilena, dan toluena, yang berasal dari cat, bahan bangunan, dan bahan kimia rumah tangga (Nurwaini & Saputri, 2018). Bahkan, sebagian artikel menulis bahwa tanaman menyerap lebih dari 100 jenis polutan dan bahwa satu helai daun menyerap hampir satu miligram formaldehida per jam.
Namun, kamu perlu menimbang angka tersebut dengan hati-hati. Peneliti NASA menguji tanaman di ruang tertutup berukuran kecil, sedangkan rumah nyata punya ventilasi, volume udara besar, dan sumber polutan yang terus-menerus. Selain itu, telaah lanjutan menunjukkan laju penyaringan tanaman pot di rumah terlalu lambat untuk menggantikan ventilasi. Untuk memperjelas, tabel berikut merangkum perbedaannya.
| Aspek | Kondisi laboratorium | Kondisi rumah |
|---|---|---|
| Volume ruang | Kecil dan tertutup | Besar dan berventilasi |
| Sumber polutan | Dosis tunggal | Terus-menerus |
| Efek tanaman | Terukur | Sangat kecil |
| Kesimpulan praktis | Ada potensi | Bukan pengganti ventilasi |
Oleh karena itu, anggap lidah mertua sebagai pelengkap sirkulasi udara yang baik, bukan sebagai alat pemurni udara.
2. Penyerap Karbon Dioksida pada Malam Hari
Metabolisme CAM membuat sansevieria menyerap karbon dioksida saat gelap. Karena itu, banyak orang memilihnya untuk kamar tidur dan ruang ber-AC yang jarang mendapat udara segar. Selain itu, tanaman melepaskan uap air, sehingga membantu menambah kelembapan udara di ruangan kering.
3. Nilai Estetika dan Penghijauan
Daun tegak dengan pola pita memberi kesan tegas dan rapi. Misalnya, kamu bisa memadukannya dengan gaya interior minimalis, tropis, maupun industrial (Adeniyi dkk., 2020). Selain itu, di area berpolusi seperti tepi jalan atau pekarangan padat, tanaman ular berperan dalam penghijauan karena tahan panas dan debu.
4. Serat dan Pengobatan Tradisional
Pada masa lalu, serat daun tanaman tersebut menghasilkan rami tali busur, yaitu serat kuat yang orang pakai untuk membuat tali busur. Sementara itu, dalam pengobatan tradisional, masyarakat memanfaatkan rimpang dan daun untuk meredakan batuk dan mengobati luka gigitan ular. Akan tetapi, bukti klinis untuk penggunaan tersebut masih lemah. Jadi, kamu tidak boleh menjadikannya pengganti perawatan medis.
5. Ringkasan Manfaat dan Tingkat Buktinya
| Manfaat | Dasar ilmiah | Tingkat bukti |
|---|---|---|
| Menyaring polutan udara | Studi NASA pada ruang tertutup | Sedang; terbatas untuk penerapan di rumah |
| Menyerap CO₂ pada malam hari | Metabolisme CAM | Kuat |
| Menambah kelembapan udara | Pelepasan uap air oleh daun | Sedang |
| Hiasan interior | Bentuk daun dan toleransi cahaya rendah | Kuat |
| Sumber serat | Penggunaan historis | Kuat (historis) |
| Obat tradisional | Penggunaan turun-temurun | Lemah |
Cara Budi Daya Lidah Mertua
1. Syarat Tumbuh
Tabel berikut menunjukkan kisaran kondisi optimal untuk budi daya.
| Parameter | Kisaran optimal |
|---|---|
| Ketinggian tempat | 50–1.500 m dpl |
| Intensitas cahaya | Sedang; toleran terhadap cahaya rendah |
| Kelembapan udara | 30–60% |
| Suhu | 20–29°C |
| pH tanah | 5,5–7,0 |
Dengan kombinasi kondisi tersebut, tanaman tumbuh sehat, baik di pekarangan terbuka maupun di dalam ruangan.
2. Media Tanam
Pertama, campurkan pasir, tanah, pupuk organik, dan bahan organik seperti arang sekam atau cocopeat dengan perbandingan 2:1:1:1. Pasir memberi drainase cepat, sedangkan arang sekam dan cocopeat menjaga struktur media tetap gembur. Selain itu, pilih pot dengan lubang drainase, sebab akar sansevieria tidak tahan genangan.
3. Metode Perbanyakan
Kamu bisa memperbanyak tanaman ular secara generatif maupun vegetatif. Untuk membandingkan keduanya, tabel berikut merangkum cara, kelebihan, dan kekurangan tiap metode.
| Metode | Cara | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|
| Generatif | Biji hasil persilangan | Menghasilkan variasi baru | Lambat dan sulit karena tanaman jarang berbunga |
| Pemisahan anakan | Pisahkan anakan dari induk beserta akar | Cepat, variegasi terjaga | Jumlah bibit terbatas |
| Pembagian rimpang | Potong rimpang menjadi beberapa bagian | Variegasi terjaga | Butuh rumpun yang sudah besar |
| Setek daun | Potong daun sepanjang 7,5–10 cm | Bibit banyak dari satu daun | Variegasi kultivar bergaris hilang |
| Cacah daun | Potong daun menjadi banyak bagian kecil | Produksi massal | Variegasi hilang, pertumbuhan lambat |
| Setek pucuk | Potong bagian pucuk | Cepat menjadi tanaman utuh | Butuh tanaman induk yang besar |
Petani lebih sering memilih cara vegetatif karena keturunannya identik dengan induk. Meskipun demikian, ingat satu catatan penting: setek daun menghilangkan variegasi pada kultivar bergaris. Oleh karena itu, kamu sebaiknya membagi rimpang untuk kultivar semacam Laurentii.
4. Langkah Setek Daun
- Pertama, pilih daun sehat, tebal, dan bebas bercak.
- Kemudian, potong daun memanjang sepanjang 7,5–10 cm.
- Setelah itu, biarkan luka potong mengering satu hingga dua hari agar tidak membusuk.
- Selanjutnya, tanam sisi bagian bawah daun pada media yang lembap, tetapi tidak becek.
- Lalu, letakkan pot di tempat terang tanpa sinar matahari langsung.
- Akhirnya, tunggu akar dan tunas baru muncul, lalu pindahkan ke pot yang lebih besar setelah anakan tumbuh kokoh.
Cara Merawat Lidah Mertua
1. Jadwal Perawatan
| Komponen | Panduan |
|---|---|
| Penyiraman | Siram saat media mulai kering; pada musim kemarau, 2–3 hari sekali biasanya memadai |
| Pemupukan | Pupuk slow release setiap 2–3 bulan |
| Cahaya | Terang tidak langsung; toleran terhadap cahaya rendah |
| Suhu | 20–29°C |
| Pot | Berlubang drainase; ukuran sesuai rumpun |
| Pemangkasan | Buang daun rusak atau membusuk dengan gunting bersih |
2. Penempatan di Dalam Ruangan
Taruh sansevieria di dekat jendela agar tanaman mendapat cahaya tidak langsung. Selain itu, kamu juga bisa menempatkannya di sudut ruangan yang lebih gelap, meskipun pertumbuhannya melambat. Di ruangan ber-AC, siram lebih jarang karena media mengering lebih lambat. Terakhir, putar pot sesekali agar daun tumbuh tegak dan seimbang.
3. Mengatasi Masalah pada Daun
| Gejala | Penyebab umum | Solusi |
|---|---|---|
| Daun menguning dan lembek | Terlalu banyak air | Kurangi siraman, periksa drainase |
| Ujung daun cokelat dan kering | Kurang air atau pupuk berlebih | Atur jadwal siram, kurangi dosis pupuk |
| Daun melengkung dan menipis | Cahaya terlalu rendah | Pindahkan ke tempat lebih terang |
| Pertumbuhan berhenti | Pot terlalu sempit atau musim dingin | Ganti pot atau tambah cahaya |
| Daun rebah | Akar rusak atau media padat | Ganti media dan periksa akar |
4. Hama dan Penyakit
| Masalah | Gejala | Penanganan |
|---|---|---|
| Busuk lunak pada daun | Daun lembek dan berair | Kurangi penyiraman, buang bagian yang busuk |
| Busuk akar | Pangkal daun melunak, media berbau | Ganti media, perbaiki drainase |
| Bercak daun | Bercak cokelat pada permukaan daun | Pangkas daun terserang, jaga sirkulasi udara |
| Thrips | Daun berbercak keperakan | Bersihkan daun; semprot hanya jika serangan parah |
| Siput | Tepi daun robek | Singkirkan siput secara manual |
Kendalikan organisme pengganggu tanaman secara preventif lewat sanitasi lingkungan dan pemupukan berimbang. Sebaliknya, gunakan pestisida hanya bila serangan sudah parah dan cara lain gagal.
Pengalaman Merawat Lidah Mertua
Selama beberapa tahun KeKe merawat sansevieria di pot plastik berdiameter 20 cm, dan hasil pengamatan saya sejalan dengan literatur. Kesalahan pertama saya adalah memakai pot tanpa lubang drainase. Akibatnya, pangkal daun melunak dalam tiga minggu karena air menggenang. Setelah itu, saya beralih ke campuran pasir, tanah, kompos, dan arang sekam, sehingga akar tumbuh jauh lebih sehat.
Selanjutnya, KeKe menyiram hanya ketika media kering sampai kedalaman dua ruas jari. Dengan cara tersebut, masalah busuk akar berhenti. Sebagai contoh, setek daun Laurentii saya menghasilkan anakan berdaun hijau polos tanpa garis kuning, sedangkan pembagian rimpang mempertahankan garis kuning. Selain itu, pada cuaca lembap saya memperpanjang jeda siram karena media butuh waktu lebih lama untuk kering.
Di kamar tidur dekat jendela, tanaman tumbuh stabil tanpa perawatan rumit. Namun, KeKe tidak merasakan perubahan kualitas udara yang terukur. Oleh karena itu, saya menaruhnya untuk keindahan dan ketenangan visual, dan kamu bisa memakai alasan yang sama.
Risiko dan Keamanan Lidah Mertua
1. Toksisitas bagi Hewan dan Anak
Tanaman ular mengandung saponin. Meskipun kadarnya umumnya rendah, anjing dan kucing yang menggigit daun bisa mengalami mual, muntah, atau diare. Demikian pula, anak kecil yang menelan bagian tanaman dalam jumlah besar bisa mengalami gangguan pencernaan.
2. Iritasi Kulit
Getah tanaman dapat memicu gatal atau ruam pada kulit sensitif. Oleh karena itu, pakai sarung tangan saat kamu memangkas atau memindahkan tanaman, lalu cuci tangan dengan sabun sesudahnya.
3. Langkah Aman Merawat
| Situasi | Tindakan |
|---|---|
| Ada anak kecil atau hewan peliharaan | Letakkan pot di rak tinggi atau ruang yang sulit mereka jangkau |
| Hewan menggigit daun | Bersihkan mulutnya dan pantau gejala; hubungi dokter hewan bila muntah berlanjut |
| Anak menelan bagian tanaman | Hubungi tenaga medis atau pusat informasi keracunan bila muncul gejala berat |
| Getah mengenai kulit | Cuci dengan air mengalir dan sabun |
Mitos dan Fakta tentang Lidah Mertua
Banyak kepercayaan beredar tentang sansevieria. Karena itu, tabel berikut memisahkan klaim populer dari bukti ilmiah.
| Klaim populer | Penilaian |
|---|---|
| Menyerap energi negatif | Tidak ada bukti ilmiah; termasuk kepercayaan budaya |
| Membawa keberuntungan dan kesejahteraan | Tidak ada bukti ilmiah; berupa simbol budaya |
| Menjaga keharmonisan rumah tangga | Tidak ada bukti ilmiah |
| Memurnikan udara rumah sepenuhnya | Berlebihan; efek di rumah nyata sangat kecil |
| Aman untuk semua penghuni rumah | Keliru; saponin agak toksik bagi hewan dan anak |
| Mengeluarkan oksigen banyak di malam hari | Keliru; tanaman menyerap CO₂ pada malam hari lewat CAM, sedangkan produksi oksigen terjadi lewat fotosintesis siang |
Makna Budaya Lidah Mertua
Di Afrika Barat, masyarakat mengaitkan tanaman berpita kuning dengan Ọya, dewi badai dalam tradisi Yoruba. Selain itu, di Nigeria orang menghubungkannya dengan Ògún, orisha perang, dan memakainya dalam ritual penolak mata jahat. Sementara itu, di Brasil orang menyebutnya espada de São Jorge dan menanamnya di luar rumah untuk menangkal kejahatan. Tanaman tersebut berperan penting dalam agama Umbanda dan melambangkan Ogum. Adapun varietas bertepi kuning, orang menyebutnya espada de Santa-Bárbara dan mengaitkannya dengan Iansã, yang menjaga rumah dari cuaca buruk.
Di Indonesia, banyak orang percaya lidah mertua membawa keberuntungan, menolak energi negatif, dan menjaga keharmonisan keluarga. Meskipun demikian, belum ada bukti ilmiah yang mendukung kepercayaan tersebut. Namun, kepercayaan itu tetap memperkaya makna budaya tanaman.
Kamu punya pengalaman merawat sansevieria? bagikan artikel tersebut ke teman atau keluarga yang sedang mencari tanaman hias mudah rawat.
Baca juga:
- Lidah Mertua di Kamar Tidur: Boleh atau Tidak? Cek Faktanya
- Tanaman Mirip Lidah Mertua: 13 Jenis dan Cara Membedakannya
- Jenis Lidah Mertua Mini: 8 Varietas, Ciri, Perawatan, dan Cara Menatanya
- Tanaman Hias: Pengertian, Klasifikasi, Manfaat, Budidaya, dan Prospek Ekonominya untuk Rumah Tropis
- Cara Menanam Lidah Mertua dengan Media Air, Akar Tumbuh 4-8 Minggu
FAQ
1. Apa manfaat lidah mertua?
Lidah mertua membantu menyaring beberapa polutan udara dalam ruangan, menyerap karbon dioksida pada malam hari lewat metabolisme CAM, dan mempercantik interior dengan perawatan minimal. Namun, efek pemurnian udaranya nyata di laboratorium, tetapi kecil di rumah biasa.
2. Apakah lidah mertua boleh ditaruh di kamar tidur?
Boleh. Karena stomatanya membuka pada malam hari, tanaman menyerap karbon dioksida saat kamu tidur. Selain itu, letakkan pot di dekat jendela dan jauhkan dari jangkauan anak serta hewan peliharaan.
3. Seberapa sering menyiram lidah mertua?
Siram saat media tanam mulai kering. Misalnya, pada musim kemarau jadwal 2–3 hari sekali biasanya cukup. Sebaliknya, kurangi frekuensi saat cuaca lembap atau ruangan minim cahaya, karena kelebihan air menyebabkan busuk akar.
4. Apakah lidah mertua beracun bagi kucing dan anjing?
Ya, tetapi tingkat toksisitasnya agak rendah. Saponin dalam daunnya dapat menyebabkan mual, muntah, atau diare pada hewan yang menggigitnya. Oleh karena itu, segera hubungi dokter hewan bila gejala berat atau berlangsung lama.
5. Bagaimana cara memperbanyak lidah mertua?
Gunakan setek daun sepanjang 7,5–10 cm, pemisahan anakan, atau pembagian rimpang. Namun, pilih pembagian rimpang untuk kultivar bergaris kuning, karena setek daun menghilangkan variegasinya.
Referensi
- Adeniyi, A. G., Adeoye, S. A., & Ighalo, J. O. (2020). Sansevieria trifasciata fibre and composites: A review of recent developments. International Polymer Processing, 35(4), 344–354. https://doi.org/10.3139/217.3914
- ASPCA. (t.t.). Snake plant. https://www.aspca.org/pet-care/aspca-poison-control/toxic-and-non-toxic-plants/snake-plant
- Cummings, B. E., & Waring, M. S. (2020). Potted plants do not improve indoor air quality: A review and analysis of reported VOC removal efficiencies. Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology, 30(2), 253–261. https://doi.org/10.1038/s41370-019-0175-9
- Martin, C. E., Herppich, W. B., Roscher, Y., & Burkart, M. (2019). Relationships between leaf succulence and Crassulacean acid metabolism in the genus Sansevieria (Asparagaceae). Flora, 261, Artikel 151489. https://doi.org/10.1016/j.flora.2019.151489
- Mien, D. J., Carolin, W. A., & Firhani, P. A. (2015). Penetapan kadar saponin pada ekstrak daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain varietas S. Laurentii) secara gravimetri. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 2(2), 65–69. https://ejurnal.poltekkesjakarta3.ac.id/index.php/jitek/article/view/86
- Nurjannah, S., Muryani, S., & Suyanto, A. (2018). Pengaruh tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) terhadap penurunan kadar Pb (plumbum) di udara. Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 10(2), 84–89. https://doi.org/10.29238/sanitasi.v10i2.872
- Pramono, S. (2008). Pesona Sansevieria (Edisi ke-2). AgroMedia Pustaka.
- Takawira-Nyenya, R., Mucina, L., Cardinal-McTeague, W. M., & Thiele, K. (2018). Sansevieria (Asparagaceae, Nolinoideae) is a herbaceous clade within Dracaena: Inference from non-coding plastid and nuclear DNA sequence data. Phytotaxa, 376(6), 254–276. https://doi.org/10.11646/phytotaxa.376.6.2
- Wolverton, B. C., Johnson, A., & Bounds, K. (1989). Interior landscape plants for indoor air pollution abatement: Final report. NASA John C. Stennis Space Center. https://ntrs.nasa.gov/citations/19930073077
di review oleh tim reviewrs
Aqilla Putri Pasla, seorang pengamat lingkungan yang berfokus pada ekologi, konservasi, dan gaya hidup berkelanjutan melalui Konten yang berbasis fakta, tips praktis, serta wawasan edukatif.



