Cara Memisahkan Anakan Kuping Gajah
Memisahkan anakan kuping gajah berarti memotong tunas muda beserta akarnya dari tanaman induk, lalu menanamnya di pot atau polibag baru. Kamu bisa menyelesaikan prosesnya dalam waktu sekitar sepuluh menit selama pisau steril, media tanam gembur, dan akar anakan sudah siap. Selain itu, teknik pembagian rumpun, atau divisi, menjadi cara perbanyakan paling cepat dan paling aman untuk kuping gajah, baik jenis Alocasia, Colocasia (talas hias), maupun Anthurium.
Mengenal Anakan Kuping Gajah
Anakan adalah tunas atau umbi kecil yang tumbuh di sekitar bonggol induk. Selain itu, pehobi tanaman hias menyebutnya juga pup, tunas samping, atau rumpun baru. Setiap anakan menempel pada induk lewat rimpang tipis, tetapi akarnya sering sudah mandiri.
Istilah kuping gajah mencakup beberapa tanaman berbeda:
- Alocasia macrorrhiza: berdaun besar, tumbuh tegak, dan menghasilkan banyak anakan di pangkal batang.
- Colocasia esculenta (talas hias, telinga gajah): tumbuh dari umbi dan rimpang, termasuk varietas Black Magic berdaun ungu tua.
- Anthurium crystallinum: sebagian kolektor juga menyebutnya kuping gajah karena daunnya lebar dan bertekstur beludru.
Prinsip pemisahannya sama. Dengan demikian, kamu hanya perlu menyesuaikan kedalaman tanam dan intensitas penyiraman untuk tiap jenis.
Kapan Waktu Terbaik untuk Memisahkan Anakan?
Pisahkan anakan saat tanaman induk sehat dan aktif tumbuh. Musim hujan di Indonesia sangat mendukung karena kelembapan udara tinggi, sehingga luka potong cepat pulih. Sebaliknya, hindari memisahkan anakan ketika induk layu, terserang hama, atau baru selesai berbunga.
Tanda anakan siap pisah:
- Tinggi anakan mencapai sepertiga sampai setengah tinggi induk.
- Anakan punya dua sampai tiga helai daun yang sudah membuka.
- Akar putih atau krem terlihat jelas di pangkal anakan.
- Pot induk terasa sesak dan akar mulai menyembul dari lubang drainase.
Alat dan Bahan yang Perlu Kamu Siapkan
| Alat/Bahan | Fungsi | Catatan |
|---|---|---|
| Pisau atau cutter tajam | Memotong rimpang dengan rapi | Sterilkan dengan alkohol 70% atau api |
| Pot atau polibag baru | Wadah anakan | Wajib berlubang drainase |
| Sekam bakar, tanah gembur, kompos | Media tanam porous | Campur dengan perbandingan 1:1:1 |
| Perlit atau pasir malang | Menambah aerasi | Opsional, cocok untuk Alocasia |
| Fungisida atau abu sekam | Mencegah jamur di luka potong | Taburkan tipis |
| Hormon perangsang akar | Mempercepat akar baru | Opsional |
| Sarung tangan | Melindungi kulit dari getah | Getah talasan bisa memicu gatal |
Langkah-Langkah Memisahkan Anakan Kuping Gajah
1. Keluarkan Tanaman dari Pot
Siram tanaman induk satu hari sebelumnya, lalu miringkan pot dan tarik tanaman pelan-pelan dari pangkal batang. Jangan menarik dari daun karena tangkai mudah patah. Setelah itu, goyangkan bola akar supaya tanah rontok dan anakan terlihat.
2. Periksa Akar dan Tunas
Selanjutnya, pastikan setiap anakan punya akar sendiri dan minimal satu titik tumbuh. Anakan tanpa akar tetap bisa hidup, tetapi kamu perlu merawatnya lebih telaten dan menunggu lebih lama.
3. Potong atau Lepaskan Anakan
Pertama, urai akar yang saling melilit dengan jari. Jika anakan tidak lepas, potong rimpang penghubung dengan satu sayatan bersih. Selain itu, usahakan luka pada induk dan anakan sekecil mungkin.
4. Rapikan Akar dan Keringkan Luka
Kemudian, gunting akar yang terlalu tua, hitam, atau lembek. Taburkan fungisida atau abu sekam pada bekas potongan, lalu angin-anginkan anakan di tempat teduh selama 30 sampai 60 menit.
5. Tanam di Media Baru
Isi pot dengan media gembur, buat lubang tanam, lalu letakkan anakan. Selanjutnya, tanam bonggol sedalam kurang lebih 2 cm dan sisakan bagian atas bonggol sedikit di atas permukaan media supaya pangkal tidak terlalu lembap. Terakhir, padatkan media dengan lembut untuk mengusir kantong udara.
6. Siram dan Beri Naungan
Siram sampai air keluar dari lubang drainase, lalu taruh pot di tempat teduh dengan cahaya terang tanpa sinar matahari langsung selama dua sampai tiga minggu pertama.
Saat keke memisahkan anakan kuping gajah untuk pertama kali, keke langsung menyiram deras setiap hari karena khawatir anakan kering. Akibatnya, pangkal batang membusuk dalam sepuluh hari. Sejak saat itu keke menyiram hanya ketika permukaan media terasa kering sedalam satu ruas jari.
Beberapa pelajaran dari pengalaman lapangan:
- Pisau yang tumpul menghancurkan jaringan dan memperlambat pemulihan, jadi asah atau ganti bilah sebelum memotong.
- Anakan yang terlalu kecil dan tanpa akar sering layu. Oleh karena itu, tunggu sampai akarnya muncul sebelum kamu memisahkan.
- Pot yang terlalu besar menahan air berlebih. Sebaliknya, pilih pot sedikit lebih besar dari bola akar.
- Daun bawah yang menguning sesudah pemisahan adalah reaksi wajar. Sebab, tanaman memindahkan energi ke akar baru.
Perawatan Anakan Setelah Dipisahkan
| Aspek | Anjuran | Kesalahan Umum |
|---|---|---|
| Cahaya | Terang tersaring, tanpa sinar matahari langsung | Menjemur anakan sehingga daun terbakar |
| Penyiraman | Siram ketika permukaan media kering sekitar 2,5 cm | Menyiram tiap hari sampai becek |
| Suhu | Hangat, kira-kira 21 sampai 29°C | Menaruh di area berangin atau ber-AC |
| Pupuk | Pupuk larut air seimbang, dosis setengah, tiap dua minggu setelah tumbuh daun baru | Memupuk saat akar belum aktif |
| Pemantauan | Cek kelembapan media dan hama secara rutin | Membiarkan anakan menempel pada tanaman sakit |
Sebagai tanda keberhasilan, daun baru atau akar baru muncul dalam dua sampai enam minggu. Pindahkan anakan ke pot lebih besar atau ke kebun ketika akar mulai melingkari dasar pot atau menyembul dari lubang drainase.
Masalah dan Cara Mengatasinya
| Gejala | Kemungkinan Penyebab | Solusi |
|---|---|---|
| Daun menguning | Penyiraman berlebih | Kurangi frekuensi siram, pastikan drainase lancar |
| Pangkal batang lembek dan berbau | Busuk akar atau bonggol | Angkat tanaman, potong bagian busuk, tanam ulang di media baru |
| Daun menggulung atau layu | Kekurangan air atau udara terlalu kering | Naikkan kelembapan, jauhkan dari angin |
| Bercak putih atau kapang | Jamur | Semprot fungisida organik, kurangi kelembapan |
| Daun berlubang atau lengket | Hama (kutu daun, tungau) | Semprot minyak neem secara berkala |
Saatnya Mencoba dan Berbagi
Setelah membaca panduan keke, giliran kamu mengambil pisau, menyiapkan pot, dan memisahkan anakan kuping gajah di rumah. Tulis pengalamanmu di medsos, lalu bagikan artikel kepada temanmu sesama pencinta tanaman hias supaya kebun mereka ikut rimbun.
Baca juga:
- Cara Memangkas Sirih Gading agar Rimbun dan Sehat
- Cara Merawat Sirih Gading agar Cepat Tumbuh dan Rimbun (Panduan 2026)
- Apakah Tanaman Kuping Gajah Bisa Hidup di Air? Jawabannya Bisa
- 7 Jenis Anthurium Kuping Gajah yang Memiliki Ciri Daun Unik dan Populer
FAQ
1. Bagaimana cara memisahkan anakan kuping gajah dengan benar?
Angkat tanaman dari pot, bersihkan tanah supaya akar terlihat, lalu potong rimpang anakan dengan pisau steril. Selain itu, pilih anakan yang sudah berakar dan berdaun minimal dua helai. Terakhir, keringkan luka potong, tanam di media gembur, dan taruh di tempat teduh.
2. Kapan waktu terbaik memisahkan anakan kuping gajah?
Waktu terbaik jatuh pada musim hujan atau saat tanaman induk sedang aktif tumbuh. Anakan siap dipisah ketika tingginya mencapai sepertiga tinggi induk dan akarnya sudah terlihat.
3. Apakah anakan tanpa akar bisa dipisahkan?
Bisa, tetapi tingkat keberhasilannya lebih rendah. Dalam kasus itu, tanam anakan di media lembap dengan pot kecil, jaga kelembapan, dan tutup sementara dengan plastik bening agar akar tumbuh. Sebagai alternatif, kamu juga bisa menunggu sampai akar muncul sebelum memotong.
4. Media tanam apa yang cocok untuk anakan kuping gajah?
Sebagai contoh, gunakan campuran sekam bakar, tanah gembur, dan kompos dengan perbandingan sama. Selain itu, tambahkan perlit atau pasir malang bila kamu ingin aerasi lebih baik. Media harus menyimpan lembap tetapi tidak menggenang.
5. Berapa lama anakan kuping gajah mulai tumbuh setelah dipisahkan?
Anakan biasanya menunjukkan daun atau akar baru dalam dua sampai enam minggu. Tanaman yang kurang cahaya atau terlalu basah tumbuh lebih lambat, jadi atur penyiraman dan pencahayaan dengan cermat.
Aqilla Putri Pasla, seorang pengamat lingkungan yang berfokus pada ekologi, konservasi, dan gaya hidup berkelanjutan melalui Konten yang berbasis fakta, tips praktis, serta wawasan edukatif.



