Tanaman Penjernih Air Kolam Ikan
Tanaman penjernih air kolam ikan yang paling sering dipakai adalah eceng gondok, hornwort, teratai, apu-apu, ganggang rantai, mata lele, dan water lettuce. Sebab, tanaman penyaring air alami tersebut menyerap nitrogen dan fosfor, melepaskan oksigen, serta menaungi permukaan kolam (Dhote & Dixit, 2009). Akibatnya, alga kehilangan makanan dan cahayanya. Dengan demikian, kamu bisa mengurangi ketergantungan pada obat kimia. Selain itu, kamu tidak perlu menguras kolam terlalu sering.
Bagaimana Tanaman Air Menjernihkan Kolam?
Para peneliti menyebut mekanisme alami tersebut fitoremediasi. Misalnya, tanaman menyerap nitrogen dan fosfor dari sisa pakan serta kotoran ikan (Dhote & Dixit, 2009). Karena itu, alga kekurangan makanan, sehingga air hijau perlahan menjadi jernih.
Secara garis besar, ada tiga cara kerja utama:
- Pertama, akar mengambil nitrogen dan fosfor yang biasanya menjadi makanan alga.
- Kedua, tanaman terendam melepaskan oksigen saat berfotosintesis, sehingga ikan bernapas lebih lega.
- Ketiga, daun yang menutupi permukaan mengurangi sinar matahari, sedangkan akar menyediakan rumah bagi bakteri baik dan membantu pengendapan partikel (Lu et al., 2010).
Tabel Perbandingan Tanaman Penjernih Air Kolam Ikan
Selanjutnya, agar kamu lebih mudah membandingkan, tabel berikut merangkum jenis, manfaat, dan tingkat perawatan setiap tanaman.
| Tanaman | Jenis | Manfaat Utama | Tingkat Perawatan | Cocok untuk |
|---|---|---|---|---|
| Eceng gondok | Apung | Menyerap nutrisi, menaungi | Sedang (cepat berbiak) | Kolam luas |
| Hornwort | Terendam | Menambah oksigen, menekan alga | Mudah | Kolam koi, ikan padat |
| Teratai | Daun terapung | Menaungi, menekan alga | Mudah | Semua ukuran kolam |
| Lotus | Daun terapung | Menyerap nutrisi dalam jumlah besar | Sedang | Kolam luas |
| Apu-apu | Apung | Menyerap logam berat dan nutrisi | Sangat mudah | Kolam minimalis |
| Ganggang rantai | Terendam | Oksigenasi, mengurangi lumut | Mudah | Kolam kecil dan besar |
| Mata lele (duckweed) | Apung | Menyerap nutrisi, menekan alga | Mudah (perlu dikendalikan) | Kolam dan akuarium |
| Water lettuce | Apung | Menurunkan kekeruhan dan suhu air | Mudah | Kolam terbuka |
| Bambu air | Tepian | Menyaring air, pembatas kolam | Mudah | Tepi kolam |
| Papyrus payung | Tepian | Menyaring, menaungi ikan | Sedang (perlu dipangkas) | Tepi kolam |
| Pisang air | Tepian | Mencegah air terlalu panas | Sedang | Kolam luas |
Rekomendasi Tanaman Penjernih Air Kolam Ikan
1. Eceng Gondok
Eceng gondok punya akar panjang yang menggantung dan bekerja seperti saringan hidup. Bahkan, berbagai kajian menunjukkan tanaman apung tersebut menyerap nitrogen dan fosfor dalam jumlah besar (Rezania et al., 2015; Newete & Byrne, 2016). Namun, pertumbuhannya sangat cepat. Oleh karena itu, kamu perlu rutin mengangkat sebagian tanaman agar tidak menutup seluruh permukaan air. Jika tidak, tanaman yang mati dan membusuk justru melepas nutrisi kembali ke air, sehingga alga berpeluang mekar (Auchterlonie, 2020).
2. Hornwort
Hornwort tumbuh terendam tanpa media tanah. Selain menyerap nutrisi langsung dari air, tanaman tersebut melepaskan oksigen saat fotosintesis. Lebih lanjut, penelitian laboratorium menemukan bahwa ekstrak hornwort (Ceratophyllum demersum) menghambat beberapa jenis sianobakteri (Gross et al., 2003). Itulah sebabnya banyak pemilik kolam koi memilihnya.
3. Teratai (Water Lily)
Daun teratai yang lebar menutup sebagian permukaan air dan memangkas penetrasi cahaya. Dengan begitu, alga sulit berkembang. Selain itu, studi pada kolam kecil menunjukkan bahwa tutupan tanaman berdaun terapung memengaruhi kadar nutrisi, penetrasi cahaya, dan metabolisme ekosistem kolam (Hornbach et al., 2020). Sementara itu, penelitian di kolam irigasi Jepang mencatat bahwa tanaman berdaun terapung menyerap banyak nutrisi dan menekan fitoplankton pada musim panas (Maruyama et al., 2005). Di samping itu, bunganya yang berwarna putih, kuning, ungu, atau merah muda mempercantik tampilan kolam.
4. Lotus
Lotus berukuran lebih besar daripada teratai, bahkan beraroma wangi. Selain itu, tanaman tersebut menyerap banyak nutrisi dari air dan lumpur dasar. Untuk itu, pilih lotus jika kolammu cukup luas.
5. Apu-Apu
Apu-apu punya daun hijau berbulu halus seperti beludru, sedangkan akarnya berwarna putih. Selain itu, tanaman tersebut mudah tumbuh, sehingga hampir tidak memerlukan perawatan khusus. Di samping itu, apu-apu mampu menyerap logam berat dari air.
6. Ganggang Rantai
Ganggang rantai tidak hanya meningkatkan kadar oksigen, tetapi juga membantu mengurangi lumut. Selain itu, anak ikan memakainya sebagai tempat berlindung. Sebagai patokan, menurut sejumlah praktisi kolam, satu tandan bekerja efektif untuk area sekitar tiga meter persegi.
7. Mata Lele (Duckweed)
Mata lele, dari genus Lemna dan Azolla, menyerap nitrogen dan fosfor dengan efisien. Bahkan, sebuah kajian menyimpulkan bahwa duckweed berperan penting dalam memulihkan perairan yang kelebihan nutrisi (Zhou et al., 2023). Selanjutnya, uji skala pilot membandingkan kemampuannya dengan eceng gondok dalam mengolah nutrisi air limbah (Zhao et al., 2014). Sementara itu, uji lain mencatat penurunan amonium, fosfat, dan total fosfor yang lebih tinggi pada bak berisi duckweed (Ahmadi & Dursun, 2024). Meski demikian, kamu harus membatasi jumlahnya. Sebab, tanaman kecil tersebut menutup permukaan dengan sangat cepat dan menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam air (Zhou et al., 2023).
8. Water Lettuce
Daun water lettuce menyerupai selada. Misalnya, pada uji di kolam penampung air hujan, tanaman tersebut menurunkan kekeruhan air lebih dari 60 persen dan menekan nitrogen anorganik lebih dari 50 persen dibandingkan petak tanpa tanaman (Lu et al., 2010). Oleh sebab itu, water lettuce cocok untuk kolam yang terpapar matahari langsung. Namun, peneliti mengingatkan bahwa kamu harus mengurung tanaman invasif tersebut di area tertentu.
9. Bambu Air, Papyrus Payung, dan Pisang Air
Ketiganya cocok untuk tepian kolam. Bambu air berfungsi sebagai pembatas, sedangkan papyrus payung menaungi ikan. Adapun pisang air mencegah air memanas saat siang hari.
10. Sirih Gading dan Antanan
Kedua tanaman tersebut tidak hanya menambah pasokan oksigen, tetapi juga membantu menghalau polutan. Misalnya, kamu bisa menempatkan sirih gading di atas filter kolam. Dengan demikian, akar sirih gading ikut menyaring air yang mengalir.
Tips Praktik agar Hasilnya Maksimal
Berikut panduan yang sering membantu pemilik kolam rumahan:
- Pertama, mulai dari sedikit. Sebagai patokan praktis, tanam tanaman apung sekitar sepertiga permukaan dahulu, kemudian tambah bertahap sambil mengamati warna air.
- Kedua, kombinasikan dua jenis atau lebih. Dengan begitu, kamu mengelola nutrisi dan oksigen sekaligus.
- Ketiga, sisakan ruang terbuka. Sebab, pada uji lapangan, tutupan hampir penuh oleh tanaman apung menekan kadar oksigen terlarut hingga di bawah 1,5 mg per liter (Lu et al., 2010).
- Keempat, panen dan pangkas secara rutin. Sebab, tanaman yang membusuk melepas kembali nutrisinya ke air, sehingga alga kembali tumbuh (Lu et al., 2010).
- Kelima, jaga sirkulasi. Misalnya, pompa kecil atau aerator tetap membantu, terutama untuk kolam dengan banyak ikan.
- Terakhir, amati perubahan warna air selama beberapa minggu. Kemudian, kamu akan melihat air mulai berubah setelah akar tanaman berkembang.
Kesalahan Umum Saat Menanam Tanaman Penjernih Air
- Pertama, menanam eceng gondok atau mata lele tanpa pengendalian, sehingga kolam penuh dalam hitungan minggu.
- Kedua, membiarkan daun dan batang busuk menumpuk di dasar kolam.
- Ketiga, mengandalkan tanaman saja pada kolam besar dengan populasi ikan padat. Sebaiknya, padukan tanaman dengan filter mekanis.
- Keempat, memberi pakan berlebihan. Padahal, sisa pakan menjadi sumber nutrisi utama alga.
Singkatnya, kamu punya banyak pilihan tanaman penjernih air kolam ikan, mulai dari hornwort yang menambah oksigen sampai teratai yang menaungi sekaligus mempercantik. Pada akhirnya, kuncinya terletak pada kombinasi, takaran, dan perawatan rutin. Jadi, bagikan artikel ke teman pecinta ikan hias, lalu ceritakan di kolom komentar tanaman apa yang paling berhasil di kolammu. Sebab, kolam yang sehat lahir dari keseimbangan alam yang kamu rawat sedikit demi sedikit setiap hari.
Baca juga:
- Tanaman Penyerap Kelembaban Ruangan: 8 Jenis dan Cara Merawatnya
- Apa Saja Tanaman Hias yang Tren di Tahun 2026? 8 Pilihan Terbaik untuk Rumah
- Tanaman Hias dalam Ruangan AC: 10 Pilihan Tahan Dingin dan Cara Merawatnya
- 11 Tanaman Hias untuk Kantor yang Tahan Cahaya Redup (Panduan 2026)
- Tanaman Hias untuk Kamar Mandi: 12 Pilihan Tahan Lembap dan Mudah Dirawat
- 15 Tanaman Hias Meja yang Mudah Dirawat dan Cantik untuk Ruang Kerja, Rak, dan Sudut Rumah
- 15 Tanaman Hias untuk Ruang Tamu: Mudah Dirawat dan Estetik
- Tanaman Hias yang Cocok di Kamar Tidur Iklim Tropis: 14 Pilihan Mudah Dirawat dan Aman
- Tanaman Hias Gantung untuk Iklim Tropis: 12 Pilihan Tahan Panas dan Hujan, Lengkap dengan Panduan Perawatan
FAQ
1. Apa saja tanaman penjernih air kolam ikan yang paling efektif?
Eceng gondok, hornwort, teratai, apu-apu, ganggang rantai, mata lele, dan water lettuce paling sering dipakai pemilik kolam. Sebab, tanaman tersebut menyerap nutrisi, menambah oksigen, dan menaungi air, sehingga alga sulit tumbuh.
2. Berapa persen permukaan kolam yang sebaiknya tertutup tanaman?
Belum ada angka baku untuk kolam ikan hias. Sebagai patokan praktis, mulai dari sekitar sepertiga permukaan, lalu sesuaikan dengan kondisi air. Selain itu, sisakan ruang terbuka, karena tutupan hampir penuh pernah menurunkan kadar oksigen terlarut (Lu et al., 2010).
3. Berapa lama air kolam menjadi jernih setelah menanam tanaman air?
Namun, waktunya bergantung pada jumlah ikan, intensitas cahaya, suhu, dan jenis tanaman yang kamu pilih. Karena itu, amati perubahan warna air selama beberapa minggu sebelum menambah atau mengurangi tanaman.
4. Apakah tanaman air aman untuk ikan koi?
Hornwort, teratai, dan lotus umumnya cocok untuk kolam koi karena memberi keteduhan dan oksigen. Meski begitu, koi sering mengunyah tanaman muda, sehingga lindungi akar dengan pot atau keranjang.
5. Apakah tanaman air cukup tanpa filter kolam?
Untuk kolam kecil dengan ikan sedikit, tanaman sering sudah membantu. Sebaliknya, kolam besar atau berpopulasi ikan padat memerlukan filtrasi tambahan, sebab serapan nutrisi oleh tanaman hanya berpengaruh besar pada sistem berbeban rendah (Lu et al., 2010).
Referensi
- Ahmadi, A. W., & Dursun, Ş. (2024). Assessing the efficiency and role of duckweed (Lemna minor) in the removal of pollutants from wastewater treatment plant secondary clarifier tanks: A comprehensive review. Central Asian Journal of Water Research, 10(1), 115–125. https://doi.org/10.29258/cajwr/2024-r1.v10-1/115-125.eng
- Auchterlonie, J. E. (2020). The phytoremediation potential of water hyacinth [Thesis, University of the Witwatersrand]. WIReDSpace. https://wiredspace.wits.ac.za/items/65a5995b-84a8-427c-9c9c-cdd3e5b6962a
- Dhote, S., & Dixit, S. (2009). Water quality improvement through macrophytes: A review. Environmental Monitoring and Assessment, 152, 149–153. https://doi.org/10.1007/s10661-008-0303-9
- Gross, E. M., Erhard, D., & Iványi, E. (2003). Allelopathic activity of Ceratophyllum demersum L. and Najas marina ssp. intermedia (Wolfgang) Casper. Hydrobiologia, 506–509, 583–589. https://doi.org/10.1023/B:HYDR.0000008539.32622.91
- Hornbach, D. J., Schilling, E. G., & Kundel, H. (2020). Ecosystem metabolism in small ponds: The effects of floating-leaved macrophytes. Water, 12(5), Article 1458. https://doi.org/10.3390/w12051458
- Lu, Q., He, Z. L., Graetz, D. A., Stoffella, P. J., & Yang, X. (2010). Phytoremediation to remove nutrients and improve eutrophic stormwaters using water lettuce (Pistia stratiotes L.). Environmental Science and Pollution Research, 17, 84–96. https://doi.org/10.1007/s11356-008-0094-0
- Newete, S. W., & Byrne, M. J. (2016). The capacity of aquatic macrophytes for phytoremediation and their disposal with specific reference to water hyacinth. Environmental Science and Pollution Research, 23, 10630–10643. https://doi.org/10.1007/s11356-016-6329-6
- Rezania, S., Ponraj, M., Talaiekhozani, A., Mohamad, S. E., Md Din, M. F., Taib, S. M., Sabbagh, F., & Sairan, F. M. (2015). Perspectives of phytoremediation using water hyacinth for removal of heavy metals, organic and inorganic pollutants in wastewater. Journal of Environmental Management, 163, 125–133. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2015.08.018
- Zhao, Y., Fang, Y., Jin, Y., Huang, J., Bao, S., Fu, T., He, Z., Wang, F., & Zhao, H. (2014). Potential of duckweed in the conversion of wastewater nutrients to valuable biomass: A pilot-scale comparison with water hyacinth. Bioresource Technology, 163, 82–91. https://doi.org/10.1016/j.biortech.2014.04.018
- Zhou, Y., Stepanenko, A., Kishchenko, O., Xu, J., & Borisjuk, N. (2023). Duckweeds for phytoremediation of polluted water. Plants, 12(3), Article 589. https://doi.org/10.3390/plants12030589
Aqilla Putri Pasla, seorang pengamat lingkungan yang berfokus pada ekologi, konservasi, dan gaya hidup berkelanjutan melalui Konten yang berbasis fakta, tips praktis, serta wawasan edukatif.



